Strength Approach oleh Abah Rama Royani (TF64)

Setelah diwawancara secara live oleh Ola dari Smart FM tadi pagi dirumah jadi kepikiran untuk posting tulisan ini, semoga bermanfaat… Aaaamiin


MERDEKAAAA

Sudah 73 tahun kita merdeka, sudah banyak perubahan di negeri ini walaupun masih sangat banyak tugas yang harus dilakukan untuk mencapai apa yang selama ini kita cita-citakan yaitu Masyarakat yang Adil Makmur.

Negeri kita ini memiliki segalanya yang kasat mata akan tetapi masih kalah dengan negara lain nya tidak memiliki apa-apa seperti Singapura maupun Israel.

Mengapa demikian ?

Karena ada pendekatan yang kurang tepat dalam Human Development!

Kok bisa ? Dan mengapa Israel dan Singapura bisa?

Jawabannya karena mereka berada dalam situasi kepepet sehingga sibuk menggali kekuatannya sedang Indonesia yang merasa tidak kepepet karena segalanya ada , maka kita sibuk menggali dan memperbaiki kelemahan mengabaikan Potensi yang ada.

Human Development

Human Development (pengembangan sumber daya manusia) yang merupakan sumber dari segalanya. Ada dua pendekatan yang sangat berbeda bahkan berlawanan dalam usaha Human Development.

Untuk mudahnya kita ibaratkan seorang Pelatih yang salah satu tugasnya adalah Meningkatkan Kemampuan Pemainnya. Dalam hal ini saya berikan dua contoh yaitu Tim Kasti dan Tim Sepakbola.

Sebagai pelatih tim Kasti, maka fokusnya adalah pada kekurangan/ kelemahan pemainnya jadi kalau pemain A kurang bagus larinya maka saya latih lari.

Pemain B kurang bagus lemparnya maka saya latih lempar.

Pemain C kurang bagus menangkapnya maka saya latih menangkap bola.

Pemain D kurang bagus mukulnya maka saya latih memukul.

Konsep melatih ini namanya Deficit Approach, yaitu temukan Gap nya lalu latih Gap nya.

Sebagai Pelatih Tim Sepakbola, maka fokusnya pada kelebihan pemainnya dan bahkan kalau perlu mengabaikan kelemahannya.

Kalau Pemain A hebat dalam menyarangkan bola akan tetapi tidak bisa menangkap bola maka yang dilatih adalah menyarangkan bola dari berbagai posisi dan situasi, tidak dilatih menangkap bola walaupun itu adalah kelemahannya

Kalau pemain B hebat dalam menangkap bola dan lemah dalam menyarangkan bola, maka yang dilatih adalah menangkap bola pada berbagai situasi dan posisi, tidak akan dilatih cara-cara menyarangkan bola.

Konsep melatih ini namanya Strength Approach.

Nah Deficit Approach itu sangat efektif di abad ke 20 yang memang diawali dengan Era Manufacturing dimana Aktivitas Kerja di dominasi oleh Hard Activities (Aktivitas yang dapat digantikan oleh Mesin atau Komputer) dan begitu dominannya sehingga baik sektor Pendidikan, Psikologi maupun Manajemen di dominasi oleh konsep Deficit Aproach yaitu temukan Gap nya lalu latih melalui Training untuk mengisi Gap nya.

Tanpa disadari Dunia sudah berubah menjelang abad ke 21 Era Manufacturing Economy bergeser menuju Service Economy dimana aktivitas nya dominan di Soft Activities (Aktivitas yang tidak dapat digantikan oleh Mesin atau Komputer) dan di Era ini Human Development seharusnya menggunakan konsep Strength Approach yaitu Gali Potensi Kekuatannya dan asah Potensi tersebut sampai tingkat sempurna. Mengasah Potensi disini berbeda dengan konsep sebelumnya , tidak bisa dengan Training melainkan dengan Coaching & Facilitating.

Pergeseran Paradigma ini sebenarnya sudah diingat oleh Peter Drucker dalam quotes nya.

Leadership is to create an alignment of strengths in ways that make a systems weaknesses irrelevant.

Akan tetapi tembok besar Deficit Approach rupanya masih mendunia, dimana hampir semua orang berusaha meniru dan mengikuti jalan Orang Sukses. Lupa bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Yang harus ditiru adalah Cara Suksesnya, bukan jalan suksesnya.

Intinya adalah bahwa sebenarnya setiap orang diberkahi Potensi Sukses yang luar biasa, dan Potensi ini sangat unik sehingga jalan suksesnya juga unik, dan kalau saja seseorang berhasil menemukan jalan suksesnya maka dengan cara yang benar dia akan menjadi LUAR BIASA.

Nah saat ini orang yang aware (eling, sadar) dengan adanya potensi luar biasa ini masih sangat sedikit.

Dan walaupun sudah aware, ternyata menemukan keunikan yang ada didalam dirinya lebih sulit lagi.

Alhamdullilah Talents Mapping berikut turunannya berhasil membantu banyak orang menemukan dirinya

Itu baru tataran Individu, bagaimana dengan tataran yang lebih besar lagi.

Setiap Organisasi juga sebenarnya memiliki keunikan yang belakangan disebut Core Competency akan tetapi saya menggunakan istilah lain yaitu Core Strengths, yaitu keunikan organisasi yang sulit ditiru dan selaras dengan core mission Organisasi.

Di tataran yang lebih tinggi, yaitu Negara, juga sebenarnya memiliki keunikan yang tidak mudah bahkan tidak mungkin ditiru oleh negara lain. Kalau saja kita bisa menemukan keunikan ini dan memanfaatkannya maka perkembangannya akan luar biasa.

Keunikan ini sering disebut sebagai KEARIFAN LOKAL.

Sayangnya sampai saat ini kita masih sibuk meniru JALAN SUKSES negara lain padahal yang harus ditiru adalah CARA SUKSES nya.

KEARIFAN LOKAL itu adalah JALAN SUKSES nya.

Yuuuuk… mulai hari ini.

Gali dan temukan Potensi Kekuatan Kita, baik Individu masing-masing , Organisasi maupun negeri tercinta kita.

Ciri-ciri Kekuatan adalah 4-E, Enjoy Easy Excellent Earn Activities

Senang melakukannya
Mudah melakukannya
Luarbiasa hasilnya dan
Bermanfaat bagi banyak Orang

Merdekaaa !!!

Abah Rama Royani (TF64)
Penemu Talents Mapping

Diposting di akun facebook beliau tgl 17 Agustus 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s