Ilmuwan dan Penemu Aspal Geopori – Bambang Sunendar Purwasasmita (TF77)

Tulisan ini disadur dari tulisan Bpk Dani Hamdani alumni ITB di akun Facebook-nya di link ini.


“Kang jadi ke lab saya? tempatnya lab Advanced Material Processing, di Labtek VI lantai 1,” pesan Prof Bambang Sunendar Purwasasmita, Sabtu pagi 7/10/17. Benak saya langsung melayang ke sebuah laboratorium canggih, dengan peralatan superlengkap.

Sebelum masuk lab itu harus lepas sepatu, disedot debu dan pakai pakaian khusus. Saya bayangkan ketika saya sepuluh tahun silam masuk ke Lab komputer Huawei di Senchen, Cina daratan. Atau yah, setidaknya seperti saat mau masuk ke datacenter sebuah perusahaan IT gede di bilangan Kuningan, Jakarta.

Kaki saya melangkah ke Kampus ITB di Jalan Ganesha, seperti 29 tahun lalu saya menjejakan kaki mengais ilmu. Saya datang dengan banyak pertanyaan soal Aspal Penyerap Air dan Aspal maintenance free.

Pak Bambang Sunendar Purwasasmita (dalam tulisan ini disingkat BSP, alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1977) menyambut saya dengan ramah. Dengan rokok terselip di bibir, BSP, menyalami saya. Kaos biru bertuliskan TF77 menutup badannya yang tinggi besar. Cireng, bala bala, serta kopi hitam menemani obrolan kami di ruang kerjanya yang sederhana. Beberapa produk hasil penelitian serta paper tersumpal memenuhi dua lemari kerjanya.

“Selain aspal, saya sudah punya belasan produk dengan basis teknologi nano,” ujar BSP mengawali pembicaraan.

BSP menuturkan, sudah membuat roadmap penelitian dan produk nanoteknologi 2005-2025. “Saat ini saya punya 50 mahasiswa S2 dan S3 yang melakukan penelitian, tapi masih kurang Kang,” ujarnya. Maksudnya, masih banyak aspek penelitian yang bisa digarap oleh mahasiswa.

Mahasiswa bimbingannya bukan hanya anak Teknik Fisika, tapi lintas fakultas. Ada dari kimia, biologi, farmasi, teknik sipil, bahkan ekonomi. Ada beberapa mahasiwa S2 dari sebuah sekolah bisnis ternama di jakarta yang BSP bimbing. Merekalah yang membuat bisnis plan untuk berbagai produk keluaran laboratorium advance material itu.

“Penelitian jangan berhenti di paper dan produk tapi harus bisa diterapkan di masyarkat, karena itu harus lengkap sampai rencana bisnis,” ujarnya.

Baterai Mobil Listrik

Setelah ngobrol ke sana ke mari, BSP tiba-tiba membuka lemari dan menyodorkan plastik berisi lembaran tipis dengan dua lempeng elektroda. “Ini baterei litium buatan kita,” ujarnya.

Dibangun dengan teknologi nano, baterei ini bisa untuk smartphone atau baterai mobil listrik. “Ini masih saya simpan,” ujarnya, ber-rahasia-rahasiaan. Apa kehebatannya? BSP hanya berujar singkat. Menggunakan bahan bekas dari restoran seefood sebagai campuran untuk komposit dengan unsur tanah jarang.

“Ini lampu led, kita buat juga dari limbah seafood,” ujarnya sambil menunjukkan lampu berwarna putih sebesar kacang hijau.

BSP juga menunjukan pakan ikan terapung. Juga dengan basis teknolgi nano, pakan ikan ini bisa diatur berapa lama dia terapung. “Tidak boleh terlalu cepat tenggelam, karena ikan butuh waktu untuk mendekat. Tidak boleh juga terlalu lama terapung, karena komposisinya akan membuat lambung ikan butuh waktu lebih lama untuk mencerna.”

BSP juga mengajak saya ke “dapur” nya. Dia tunjukan mesin desalinisasi air laut. Seperangkat alat sederhana, tanpa pemanasan dan tak butuh tekanan tinggi. “Rahasianya di sini,” ujarnya sambil mengetuk tabung logam kecil berisi biopolimer temuannya.

Tabung kecil itu bisa memisahkan garam dari air laut sebanyak 100 liter per menit. Ada yang tertarik minta kapasitasnya 500 liter per menit. “Tinggal kita paralelkan saja 5 tabung ini,” ujarnya.

Teknologi ramah lingkungan ini sudah dilirik sebuah perusahaan properti besar di kawasan pantai utara jawa barat. “Ini akan digabung dengan geopori untuk penyaringan air laut tahap pertama,” katanya.

BSP juga bercerita penelitian nanomedication menggandeng mahasiswa farmasi dan biologi. “Kita sudah masuk juga ke stemcell,” ujarnya. Teknologi penyembuhan sendiri yang digadang-gadang bakal jadi obat masa depan.

Akhirnya tibalah cerita BSP pada niat awal pertemuan kami: mesin aspal penyerap air. Teknologi yang sudah dia temukan sejak delapan tahun silam itu baru belakangan ini jadi omongan.

“Ini membuat saya jadi ilmuwan seleb,” ujarnya sambil tertawa lepas. Banyak wartawan minta bertemu untuk wawancara. Termasuk saya yg sudah ‘pensiun’ dan jadi WTS (wartawan tanpa suratkabar).

“Padahal saya dari dulu gak mau jadi seleb,” ujarnya lagi.

Aspal Penyerap Air dan Jalan dari Keramik

Aspal Geo Polimer (Geopori) karya BSP in sebenarnya bukan barang baru. “Aspal ini sudah jadi sejak 2015 lalu, dan sudah dicoba di banyak tempat termasuk di ITB,” ujarnya. Ada dua jenis aspal dengan dua sifat dan fungsi berbeda.

Tipe pertama aspal untuk tubuh jalan, secara fisik sangat keras dan padat seperti keramik, mengkilat, mampu menahan beban hingga 55 ton. Sebagai perbandingan, aspal dari semen beton hanya memiliki kekuatan sekitar 25-30 ton saja. Aspal jenis ini tidak menyerap air, cocok digunakan untuk tubuh jalan. Bila dilhat wujudnya, aspal jenis ini betul-betul mirip keramik yang solid. “Geopori yang ini tidak menyerap air,” ujarnya. Untuk penyerap air, gunakan aspal tipe kedua yang cocok “ditanam” di trotoar.

Tipe kedua aspal berpori besar, inilah aspal si penyerap air. Aspal jenis ini sanggup menahan beban hingga 1,5 ton per meter persegi dan bisa menyerap air hingga 2.000 liter per meter persegi jalan, dengan struktur aspal setengah meter. Video aspal penyerap air inilah yang viral di media sosial, dan menjadikan BSP ilmuwan seleb.

Dalam rancangan BSP, aspal jenis ini lebih tepat digunakan di jalan lingkungan atau perumahan atau untuk trotoal di jalan besar. Menggunakan aspal jenis ini sebagian besar air hujan akan diserap ke dalam tanah. “Bila tanahnya jenuh baru akan dilempar ke drainase dan ke sungai,” ujarnya.

Tak heran BSP membuat aspal jenis ini berbentuk seperti paving blok yang biasa dijual di toko material. Tapi tentu ada bedanya. Aspal Geopori lebih keras dan berat. “Karena walau berpori ini adalah keramik, ini polimer. Sementara paving blok kan campuran pasir dan semen, kekuatannya tergantung jumlah semen,” ujarnya.

Selain itu, paving blok bila diberi air, dia akan getas. ‘Bila dijatuhkan dari tangan ke jalan akan pecah, sementara geopori tidak,” ujarnya.

Soal harga? Menurutnya, kalau dibuat dalam skala laboratorium harganya bisa lebih mahal. Tapi kalau dalam bentuk industri rumah tangga saja bisa lebih murah dari harga paving blok. Kenapa? dari sisi proses produksi, paving blok dibuat dari campuran batu kerikil, pasir dan semen. Harga semen yang cukup mahal sudah menjadi faktor tingginya biaya produksi. Selain itu, adonan pavingblok yang telah dicetak harus di bakar dalam tungku biar kuat.

Sementara geopori hanya berupa campuran batu kerikil dan pasir, lalu ditambah debu sisa pembakaran batubara. “Proses pengerasan atau proses polimerisasinya justru tidak boleh menggunakan panas. Saya biasa membuat jalan geopori ini sore atau malam biar tidak kena panas,” ujarnya. Jadi, secara teori bahan dan proses produksi lebih murah dibanding paving blok.

Isu lingkungan

BSP mengklaim aspal geopori ini ramah lingkungan. Karena menggunakan limbah sehingga menjadi bagian dari program pemanfaatan limbah dari pabrik atau Pembangkit Listrik tenaga uap. Selain itu, menurutnya, aspal Geopori, tidak mencemarkan lingkungan.

Apa betul tidak ada bahan beracun dan berbahaya dari debu batubara? Menurut BSP, sudah dilakukan uji toksisitas pada aspal geopori di laboratorium ITB. “Ini aspal direndam 40 hari, sama sekali tidak ada bahan beracun yang terlarut dalam air,” ujarnya.

“Kenapa bisa begitu, karena material dalam debu itu sudah membentuk polimer, sudah terikat secara kimia dengan bahan lain,” ujarnya.

Mesin Aduk Aspal Geopori

BSP mengajak saya melihat Mesin pencampur aspal itu di “dapurnya”. Terlihat sederhana. Ya cuma mesin pencampuran saja, mirip mesin aduk semen untuk mengecor. “Dalam skala besar bisa digunakan mobil tanki pengaduk semen,” ujarnya.

Satu lagi adalah mesin pres untuk mencetak bata dari adonan hasil campuran tersebut. Lalu apa istimewanya? Apa beda dengan adukan semen dan pasir? Jawabannya ada di komposisi pasir, kerikil, serta debu sisa pembakaran batubara.

Tehnik pencampuran dan komposisi adonan tersebut yang berdasar teknologi nano bisa menciptakan sebuah polimer alami, aluminium-Silikat-Oksida. Namanya Geo polimerisasi, atau BSP menyebutnya Geopori. Proses polimerisasi ini terjadi pada suhu ruangan dan tekanan satu atmosfir. Jadi tidak perlu ada proses menasan atau penambahan tekanan.

“Teknologi nano ini sebenarnya diserap dari proses alami, jadi proses pembentukannya dalam kondisi normal, tak perlu pemanasan atau pendinginan juga pemberian tekanan besar,” ujarnya. Dia menunjukan proses serupa pada pembuat produk lain, mulai proses desalinisasi air laut, pembuatan baterai litium untuk telepon dan mobil, pembuatan led dari limbah udang, juga makanan ikan terapung.

Paten dan Model bisnis rakyat

Anda sudah patenkan temuan ini? “Tidak, saya tidak mau patenkan, saya ingin teknik ini jadi milik rakyat, dibuat jadi industri kecil dan menengah, dibuat di desa-desa. Saya tidak mau ini jadi industri besar dan dikuasai pemodal besar, nanti harganya jadi mahal buat rakyat,” ujarnya.

Kalau nanti ada orang lain yang patenkan? “Yah kan kita punya dokumentasi lengkap, itu ada penelitian S2 dan S3-nya, ada di jurnal-jurnal ilmiah. Saya tidak takut sama orang yang patenkan,” ujarnya.

Menurut Bambang, jalan-jalan di desa bisa menggunakan teknologi ini. Modal untuk membuat mesinnya dalam kapasitas cukup besar hanya sekitar 1 miliar rupiah. Mesin pengaduk seukuran mesin pencampur cor semen yang biasa dipakai di rumah-rumah, menurutnya, bisa menghasilkan aspal sebanyak 30 meter kubik dalam 6 jam. kapasitas itu sudah cukup untuk industri kecil.

BSP membayangkan di banyak desa akan tumbuh industri ini untuk memasok pembuatan jalan di perumahan-perumahan atau jalan lingkungan. Sehingga jalanan akan lebih menyarap air dan lebih sedikit air yang dibuang ke sungai.

Menurutnya, jalan geopori ini bagaikan sumur resapan atau biopori. “Saya bayangkan kalau ada ribuat meter jalan dan perumahan di Bandung Utara menggunakan ini, mungkin akan lebih sedikit air yang dilempar ke kota Bandung. Lalu cadangan air tanah juga akan meningkat,” ujarnya.

Sudah ditawarkan ke pemerintah kota Bandung? “Sudah, saya disuruh ketemu kepala dinas. Emang saya siapa? anak buahnya?”, ujar Guru Besar ITB dan senior walikota Bandung, Ridwan Kamil, tersebut sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Aplikasi Terknologi Terhambat Regulasi Bahan Berbahaya Beracun

Kalau memang banyak manfaatnya, kenapa teknologi ini tidak bisa memasyarakat?

Pertama, “masyarakat kita ini butuh disadarkan, ini susah. Apalagi mereka tidak mau belajar,” ujarnya.

Kedua, “Persoalan ini pelik, abu terbang limbah batubara itu masuk dalam undang-undang tentang bahan beracun dan berbahaya (B3),” ujarnya.

BSP menuturkan, karena masuk dalam klausul tersebut, orang tidak bisa manfaatkan dengan leluasa. Kalau untuk skala laboratorium, Bambang mengaku, sudah bisa dapat dari PLTU Suryalaya. “Saya bisa kasih surat pada mahasiswa, tinggal ambil. Kalau untuk pak Bambang boleh,” ujarnya.

“Lah yang butuh kan bukan saya, tapi masyarakat yang akan memanfaatkan teknologi ini,” ujarnya.

Kabarnya sudah ada Peraturan Menteri yang memberi kelonggaran pada abu batubara? “Saya belum tahu, faktanya belum. Ada sebuah industri di Bandung selatan yang menggunakan batubara. Mereka gak kasih ijin tuh saya minta sampel buat penelitian,” ujarnya.

“Kang, kalau bikin pabrik lalu ambil atau beli abu batubara, terus diciduk polisi bagaimana? apaa ada pengusaha yang mau,” ujarnya.

Itulah menurutnya, teknologi yang ramah lingkungan, efisien dan efektif ini belum bisa diterapkan secara masal oleh masyarakat. “Saya sedih kalau teknologi ini tidak bisa diterapkan, tapi saya bisa apa? saya sih lakukan penelitian lain saja terus, masih banyak mahasiswa bimbingan saya,” ujar Bambang Sunendar Purwasasmita, insinyur tehnik fisikan ITB, master bidang applied chemistry dan doktor bidang applied biology dari Universitas Keio Jepang tersebut.

Begitulah oleh oleh saya dari ITB pada sabtu lalu (7/10/17). Perbincangan hangat dan bersahabat dgn Prof BSP sekalian menghadiri Silaturahmi Alumni Kimia dalam rangka 70 tahun Pendidikan Kimia.

Berita terkait aspal Geopori ciptaan BSP diliput oleh harian Kompas

Beri Solusi Banjir, Dosen ITB Ciptakan Bahan Jalan yang Bisa Serap Air

Liputan CNN Indonesia

Melihat Inovasi Teknologi Aspal Geopori Karya Ilmuwan ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s