Alumni TF ITB Bantu Turki Temukan Cadangan Gas Terbesar di Laut Hitam

Beni Kusuma Atmaja (TF07)

Berlayar pada 29 Mei yang lalu dari Istanbul, delapan pemuda berwarga negara Indonesia yang bekerja di Kapal pengebor minyak Turki, Fatih, turut terlibat dalam penemuan cadangan energi terbesar dalam sejarah Turki. Sebesar 320 miliar meter kubik cadangan gas alam ditemukan di sumur Tuna-1 sekitar 100 mil laut di pantai utara Turki di Laut Hitam.

Cadangan gas alam di sumur Tuna-1 yang kemudian diberi nama Ladang Gas Sakarya sesuai nama Provinsi Turki di dekat lokasi penemuan tersebut, diharapkan dapat beroperasi dan siap digunakan untuk kebutuhan publik pada 2023. Tahun tersebut bersamaan dengan hari jadi Republik Turki ke-100.

Penemuan itu pun telah diumumkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 21 Agustus 2020 sebagai salah satu capaian di tengah upaya Turki mengurangi ketergantungan energi dari negara lain. Pemerintah Turki juga nantinya berharap menjadi salah satu eksportir energi di dunia.

Presiden Erdogan memberikan selamat bagi para pejabat dan pekerja yang telah membantu tercapainya penemuan bersejarah ini. Kapal Pengebor Fatih merupakan kapal pengebor nasional Turki yang juga mempekerjakan tenaga ahli dari berbagai negara sahabat, salah satunya Indonesia.

“Tak banyak yang berpengalaman di bidang wireline drilling, itulah kenapa kami dipekerjakan di sini dan melatıh tenaga lokal,” ujar Beni Kusuma Atmaja, alumni Teknik Fisika ITB (angkatan 2007) dalam keterangan resmi KJRI Istanbul kepada Republika, Selasa (25/8).

Dia merupakan seorang insinyur dalam wireline drilling, teknik pengeboran ultra-dalam yang efisien dalam ekstraksi dari massa bebatuan dan penemuan migas. Beni tidak sendiri, putera Indonesia lain dalam misi penemuan sumber cadangan gas Turki di antaranya Randyka Komala, Bahriansyah Hutabarat, Rifani Hakim, Dian Suluh Priambodo, Hardiyan, Indra Ari Wibowo, dan Ravi Mudiatmoko.

Mereka semua adalah tenaga ahli pengeboran Indonesia yang bekerja di Turkiye Petrolery Offshore Technology Center, anak perusahaan Turkiye Petroleri. Itu adalah perusahaan minyak pertama dan pemain penting dalam perekonomian Turki.

Konsul Jenderal RI Istanbul Imam As’ari mengapresiasi para pemuda WNI yang turut serta. “Kontribusi delapan pemuda Indonesia ini tentunya patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi anak muda Indonesia untuk terus berprestasi dan menuntut ilmu setinggi-tingginya,” ujar As’ari.

Menurutnya sudah menjadi komitmen KJRI Istanbul untuk mendorong peningkatan jumlah tenaga kerja sektor formal dan kemampuan pekerja Indonesia di Turki. Masuknya kedelapan pemuda Indonesia membuktikan Indonesia mampu bersaing di pasar tenaga kerja teknologi tinggi di dunia.

“Ke depan, diharapkan semakin banyak Pemuda Indonesia yang mampu berkontribusi positif bagi perkembangan Indonesia dan dunia internasional,” tukasnya.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Selamat menjalankan tugas di Turki, kak Beni Kusuma Atmaja!

https://m.republika.co.id/berita/qfnduu459/8-pemuda-indonesia-bantu-turki-temukan-cadangan-gas-terbesar

Karen Agustiawan (TF78) Sosok Hebat Srikandi Industri Migas Indonesia

Karen Agustiawan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Karen Agustiawan (TF78)

Karen Agustiawan adalah alumni Teknik Fisika ITB yang menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina periode 2009-2014. Karen mencatatkan diri sebagai direktur utama wanita pertama dalam sejarah Pertamina serta membukukan sukses yang gemilang selama masa kepemimpinannya di Pertamina.

Lulus dari Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 1983, Karen cukup lama berkarier di Mobil Oil Indonesia (1984-1996). Ia pindah ke CGG Petrosystem selama setahun sebelum pindah lagi ke perusahaan konsultan Landmark Concurrent Solusi Indonesia.

Tahun 2002-2006 ia bergabung dengan Halliburton Indonesia. Di Pertamina, karirnya dimulai saat dirinya ditunjuk sebagai Staf Ahli Direktur Utama untuk Bisnis Hulu Pertamina tahun 2006. Karirnya terus menanjak hingga akhirnya diplot sebagai Direktur Hulu Pertamina.

Di era Menteri BUMN Sofyan Djalil tahun 2009, Karen diangkat menjadi Direktur Utama Pertamina menggantikan Ari Soemarno yang tak lain kakak kandung Rini Soemarno. Karen menjabat sebagai Dirut Pertamina selama kurun waktu enam tahun. Di eranya, Pertamina memang banyak melakukan akuisisi blok-blok migas di luar negeri seperti Irak dan Aljazair.

Diberitakan Harian Kompas, 8 Februari 2019, dua tahun sebelumnya ketika baru masuk ke Pertamina sebagai staf ahli, perannya saat itu, kata dia, “hanya” sebatas konsultan.

“(Sewaktu menjadi staf ahli, saya) mengusulkan konsep, tetapi implementornya bukan saya. Sekarang (ketika menjadi Direktur Hulu Pertamina), saya harus memastikan semuanya berjalan. Itu berat, tidak sebatas plan the work, tetapi work the plan. Waktu saya masuk sebagai Direktur Hulu, yang saya benahi adalah bagaimana work the plan,” terangnya.

Bagi Karen, Pertamina adalah tantangan, dan ia menyukai tantangan. Tantangan memicu ide di otak keluar, dan itu membuatnya hidup.

“Dulu, menjadi Direktur Hulu banyak tantangan. Tetapi kalau saya melihat posisi itu sekarang, sudah tidak menantang. Saya sekarang memimpin tujuh anak perusahaan, itu berat, tetapi menantang,” ucap Karen.

Tantangan lain, menurut Karen, soal maskulinitas. “Tahu sendiri, kan, bisnis minyak itu maskulinitasnya kuat. Saat saya masuk, banyak yang mempertanyakan, bisa apa cewek ini. Jawabannya? Banyak yang mengakui, she did bring something,” ucapnya. Karen mencermati adanya perubahan cara berpikir di sektor hulu.

Dulu orang masuk Pertamina lebih untuk keamanan kerja, masuk Pertamina untuk menghidupi keluarga. “Sekarang harus diubah menjadi I’m proud to be Pertamina family. Kayak dulu di ITB zaman Posma, kan ada spanduk selamat datang putra-putri terbaik Indonesia. Saya pengin begitu di Pertamina, selamat datang sarjana terbaik di Pertamina,” kata dia.

Dalam era kepemimpinannya visi Pertamina saat ini menjadi perusahaan energi kelas dunia dan champion Asia pada 2025 dengan aspirasi energizing Asia. Pada tahun 2011, Forbes memasukkan Karen sebagai yang pertama di dalam daftar Asia’s 50 Power Businesswomen. Ditengah gemilangya prestasi beliau di Pertamina, Karen mengundurkan resmi berhenti dari jabatannya sebagai CEO PT Pertamina tertanggal 1 Oktober 2014.

Video rekam jejak Karen Agustiawan (courtesy CNN Indonesia)

Karen sempat tersandung kasus hukum yang membuat heboh nasional dan jagat industri minyak dan gas di Inonesia. Kejaksaan Agung (Kejagung) menduga ada penyimpangan dalam pengambilan keputusan investasi Blok BMG oleh Pertamina. Kejagung menduga investasi 10 persen saham pada Blok BMG tidak sesuai dengan pedoman, tanpa studi kelayakan yang lengkap dan tidak didasari persetujuan Dewan Komisaris Petamina. Untuk itu Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan telah dijadikan tersangka pada Maret 2018.

Indonesian Resources Studies (IRESS) menyatakan bahwa mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen G. Agustiawan, telah dikriminalisasi dan menjadi korban kezoliman dalam kasus investasi Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia 2009. Dalam kasus pidana tersebut, diduga ada motif tertentu yang menjadi latar belakang sehingga terkesan kasus tersebut dipaksakan.

“IRESS menganggap kriminalisasi risiko korporasi dalam Akuisisi Blok BMG Australia 2009 adalah langkah mundur penegakan hukum Indonesia. Tidak sepatutnya Karen yang telah menunjukkan prestasi tinggi dan berjasa menjadikan Pertamina sebagai perusahaan yang sangat menguntungkan negara selama periode kepemimpinannya, justru harus dihukum dalam proses peradilan sesat. Jangan-jangan ada motif busuk dan penggunaan wewenang ala preman di balik peradilan sesat ini,” ujar Direktur Eksekutif IRES, Marwan Batubara, Kamis (9/5).

Atas keputusan investasi di Blok BMG, Karen dituduh telah merugikan negara sekitar Rp 586 miliar. Padahal berdasarkan hasil audit oleh BPK, Pertamina justru tidak mengalami kerugian atau tidak ada kerugian negara pada investasi tersebut. Kejagung memperoleh angka kerugian negara berdasarkan perhitungan oleh sebuah kantor akuntan publik (KAP).

Padahal, menurut Marwan, selama menjabat sebagai Dirut Pertamina, Karen justru telah menunjukkan kinerja yang sangat baik. Hal ini terlihat dari berbagai prestasi yang diraih oleh Pertamina selama masa jabatannya yaitu perolehan laba US$ 13,2 miliar (tahun 2013) dan raihan sebagai perusahaan peringkat ke-122 Fortune Global-500 (2013). Pertamina adalah satu-satunya perusahaan Indonesia yang pernah masuk dalam peringkat ke-122 Global-500 hingga saat ini.

IRESS juga mengapresiasi sikap Karen yang sangat menguntungkan Pertamina dan NKRI saat berlangsungnya proses perpanjangan Blok Mahakam antara 2012-2015. Karen telah bersikap sangat tegar/firm bahwa Blok Mahakam harus dikelola oleh BUMN/Pertamina, agar manfaat maksimum dapat diperoleh oleh negara.

“Saat itu, Karen berani berbeda sikap dengan Menteri ESDM Jero Wacik yang lebih memihak kepada Total dan Inpex untuk melanjutkan pengelolaan Blok Mahakam. Sikap Karen tersebut akhirnya disetujui Menteri ESDM Sudirman Said pada Maret 2015, yang memastikan bahwa pengelolaan Blok Mahakam diserahkan kepada Pertamina,” tegasnya.

Dengan berbagai prestasi yang disebutkan di atas di satu sisi, dan fakta-fakta yang terungkap selama proses persidangan di sisi lain, maka menjadi tanda tanya mengapa Karen dijadikan sebagai tersangka dalam kasus investasi Blok BMG tersebut. Dikhawatirkan, jangan-jangan ada motif tertentu yang menjadi latar belakang, sehingga terkesan bahwa kasus tersebut dipaksakan.

IRESS menganggap kriminalisasi risiko korporasi dalam Akuisisi Blok BMG Australia 2009 adalah langkah mundur penegakan hukum Indonesia. Tampaknya peradilan sesat telah terjadi pada kasus Blok BMG ini. Tidak sepatutnya Karen yang telah menunjukkan prestasi tinggi dan berjasa pula menjadikan Pertamina sebagai perusahaan yang sangat menguntungkan negara selama periode kepemimpinannya, justru harus dihukum dalam proses peradilan sesat.

Namun patut disyukuri, atas usaha yang tak kenal lelah, Karen akhirnya diputus bebas oleh Mahkamah Agung setelah mendekam 1,5 tahun di rumah tahanan.

Mahkamah Agung (MA) menjelaskan putusan mengabulkan permohonan kasasi mantan Direktur Utama PT Pertamina 2009-2014 Karen Galaila Agustiawan terkait tindak pidana korupsi dalam proses investasi di Australia.

Kepala Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung (MA) Abdullah, di Jakarta, menyatakan bahwa Karen diputus lepas. “Bukan bebas,” ujar Abdullah seperti dikutip Antara.

Dalam perkara bernomor 121K/2020 tersebut, MA menolak kasasi penuntut umum, mengabulkan kasasi terdakwa, serta membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama yang dikuatkan pengadilan tingkat banding.

“MA mengadili sendiri dan menyatakan bahwa putusannya adalah lepas onslag van recht vervolging, artinya lepas dari segala tuntuan hukum,” terang Abdullah, di Kantor MA, Jakarta, kemarin.

Dijelaskan Abdullah, terkait kasus investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang diduga merugikan negara Rp568 miliar itu, Karen terlibat sebagai dirut yang mengambil keputusan. Akan tetapi, hal itu bukan tindakan pidana.

“Bisa saja dalam bentuk administrasi, perdata, tapi yang jelas itu bukan tindak pidana sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana,” ujar Abdullah. Abdullah menerangkan Karen selaku Dirut Pertamina mengambil kebijakan tersebut berdasarkan hasil keputusan rapat direksi.

Dalam hal ini, PT Pertamina dan PT Pertamina Hulu Energi berupaya menambah cadangan migas melalui pembelian saham terhadap Blok BMG. “Nah namanya tambang kan juga belum tentu untung, tiap perusahaan tidak selalu untung. Itu faktanya. Perbuatannya ini bukan pidana.”

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dan denda Rp1 miliar kepada Karen, pada 10 Juni 2019. Karen dianggap menyalahgunakan wewenang dalam kasus investasi di BMG hingga merugikan negara.

Kepada wartawan, Karen mengaku sempat kecewa pada putusan Pengadilan Tipikor yang dinilainya keliru. “BMG aksi koorporasi yang tekennya adalah business judgement, domainnya adalah hukum perdata, tapi dipaksakan menjadi domain hukum pidana, tindak pidana korupsi,” ujar Karen setelah keluar dari Rumah Tahanan Salemba cabang Kejagung, Jakarta, tadi malam.

Karen Agustiawan menghirup udara bebas pada hari Selasa (10/3/2020) malam. Berdasarkan pantauan Kompas.com, Karen keluar dari Rutan Kejagung, Jakarta Selatan, pukul 19.10 WIB. Ia terlihat didampingi suami, keluarga, serta kuasa hukumnya, Soesilo Aribowo. Sekeluarnya dari penjara, Karen mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, keluarganya, hingga para karyawan Pertamina.

Mantan Direktur Utama PT Pertamina Persero, Karen Agustiawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (24/5/2019).
Karen Agustiawan dalam konferensi pers usai putusan Mahkamah Agung

“Pertama saya ingin mengucapkan sujud syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kebahagaiaan yang luar biasa pada hari ini,” kata Karen. Ia sekaligus mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan di rutan, tempat mendekam selama 1,5 tahun.

Suara Karen pun terdengar seperti menahan tangis di sela-sela ia memberikan keterangan kepada awak media. Selepas dari penjara, Karen mengaku ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. “Kelonan sama suami, boleh kan. Kangen sekali sama bapak,” ucap Karen.

Diolah dari berbagai sumber (Kompas, Petrominer, CNN Indonesia)

Riza Muhida (TF89) dan Inovasinya Dalam Bidang Robotika

Riza Muhida: Ilmuwan yang Sukses di Malaysia, Kembali ke Indonesia ...
Riza Muhida (alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1989)

Sukses menjadi dosen peneliti di luar negeri tidak membuatnya lupa Indonesia. Riza Muhida, bapak dua anak kelahiran Jakarta ini pada tahun sebelumnya (2007-2010) menjabat Ketua Indonesian Lecturers and Researchers Association in Malaysia atau ILRAM, sebuah organisasi yang mewadahi forum komunikasi antar-ilmuwan Indonesia dan Malaysia yang berada di Malaysia.

Riza Muhida menyelesaikan studi S1 di Teknik Fisika ITB tahun 1995. Kemudian berturut-turut beliau melanjutkan studi S2 di bidang electrical engineering di Osaka University, Jepang dan studi S3-nya di bidang Physical Science di universitas yang sama dan selesai tahun 2004.

Keinginannya kembali ke Tanah Air karena ingin menggali pengalaman dan mempersiapkan hari tua di tanah kelahirannya. Awal 2011, Riza kembali ke Indonesia.

Riza juga tercatat aktif dalam asosiasi profesor bidang mekatonika (robotik) di International Islamic University Malaysia. Saat ini, ia masih tercatat sebagai Wakil Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

Riza mengungkapkan, sebagai dosen peneliti di International Islamic University Malaysia, ia mendapatkan penghasilan 8.000 ringgit, atau lebih dari Rp 20 juta setiap bulan. Awalnya, ia tertarik menjadi dosen peneliti di Malaysia karena adanya sokongan dana penelitian dan tunjangan hidup yang lebih menjanjikan dibanding jika menjadi dosen peneliti di Indonesia.

Saat menjadi peneliti di Malaysia, kisah Riza, dengan penghasilan yang didapat ia dapat melakukan kerja-kerja penelitian dengan tenang. Tak pernah dilanda kekhawatiran memikirkan biaya sekolah anak dan kebutuhan lainnya karena Pemerintah Malaysia juga menjamin tunjangan pendidikan untuk anak, tunjangan kesehatan, dan tempat tinggal di luar gaji pokok.

Hasilnya, Riza berhasil menunjukkan buah dari penelitiannya. Ia menciptakan benda untuk menyimpan vaksin dengan suhu yang bisa disesuaikan. Benda yang menyerupai lemari pendingin itu ia patenkan hak kekayaan intelektualnya dengan nama a portable thermoelectric-based vaccine cooler.

Selain itu, ia juga memiliki penemuan lain yang diberi nama camera-based smart solar tracking system, di mana ia membuat panel surya yang lebih sederhana dengan menggunakan motor untuk menggerakkan kamera yang menangkap posisi matahari lebih akurat.

”Saya juga pernah mendapatkan medali emas dari kompetisi penemuan yang rutin dilombakan setiap tahun di berbagai negara,” kata Riza, saat ditemui Kompas.com, Jumat (16/12/2011), dalam kompetisi robot internasional, di Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Akan tetapi, penemuan-penemuan tersebut ia ”titipkan” untuk dikembangkan di International Islamic University Malaysia dan memilih kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan hari tuanya. Saat ini, ia aktif dan menikmati profesinya sebagai dosen peneliti informatika dan komputer di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya, Tangerang,

Banten. Meski penghasilan tak sebesar seperti saat menjadi dosen peneliti di Malaysia, Riza mengaku tak bisa menghilangkan keinginan untuk memiliki masa depan di Indonesia.

”Saya kembali ke Indonesia karena saya berpikir hidup saya hanya sementara. Saya melihat masa depan, hari tua saya harus di Indonesia. Daripada saya merintis di luar negeri, lebih baik saya merintis di Indonesia,” kata Riza.

Kisah hidup dan sosok Riza sangat unik dan menarik sehingga membuat Riza menjadi salah satu narasumber dalam acara Kick Andy yang banyak mengulas sosok inspiratif Indonesia. Saksikan wawancara Andy F. Noya dengan Riza Muhida

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Sukses di Malaysia, Riza Muhida Pilih Kembali ke Indonesia”, https://edukasi.kompas.com/read/2011/12/20/08581137/Sukses.di.Malaysia.Riza.Muhida.Pilih.Kembali.ke.Indonesia.
Penulis : Indra Akuntono

Linkedin IATF ITB

Halo semua alumni TF ITB.

Supaya komunikasi dari IATF ITB kepada semua pemangku kepentingan IATF ITB selalu lancar, maka telah dibuat “Linkedin page” dari organisasi IATF yang diluncurkan hari ini.

Besar harapan kami alumni TF ITB yang mempunyai akun di Linkedin dapat follow IATF ITB di link berikut ini sehingga semua informasi dapat tersampaikan dengan baik. Berikut ini adalah link dari page IATF ITB yang baru.

https://linkedin.com/company/iatf-itb

Semoga silaturahmi antara kita tetap terjaga.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Buku “Peningkatan Kualitas Akustik Masjid”

Ikatan Alumni Teknik Fisika ITB (IATF) dengan bangga mempersembahkan buku (full color) karya alumni Teknik Fisika ITB, yakni Bpk Joko Sarwono, Ph.D., mengenai tata akustik di masjid yang berjudul “Peningkatan Kualitas Akustik Masjid”.

IATF membuka pembelian buku ini bagi masyarakat luas. Buku ini dipatok pada harga minimum Rp. 170.000,- dan sangat dianjurkan untuk dilebihkan karena kelebihannya akan dimanfaatkan untuk Beasiswa TF1000. Beasiswa TF1000 adalah beasiswa bagi mahasiswa Teknik Fisika ITB yang kurang mampu secara ekonomi.

Penjualan buku ini juga upaya untuk menghargai karya-karya anak bangsa yang menjawab permasalahan di masyarakat Indonesia.

Untuk pembelian buku tersebut, silahkan isi dengan lengkap formulir pada tautan berikut ini. Terima kasih.

https://bit.ly/IATF-akustikmasjid

Apa isi dari buku ini? Berikut ini resensi dari Bapak Prof.Ir. Hermawan Kresno Dipojono MSEE,Ph.D. dimana beliau adalah staf pengajar di Teknik Fisika ITB, peneliti di bidang Kelompok Keahlian Material ITB dan Ketua Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia.

Buku “Peningkatan Kualitas Akustik Masjid” ini merupakan buku yang sangat lengkap, lebih dari cukup, untuk dijadikan bacaan wajib bagi para takmir masjid yang menginginkan untuk meningkatkan kualitas akustik masjidnya. Ia dapat menjadi bekal pengetahuan hingga sangat rinci, mulai dari pemahaman konseptual, identifikasi masalah, sistem tata suara, sampai rekomendasi solusi.

Hadirnya berbagai gambar, grafik dan skema yang menyertai penjelasan deskriptif naratif menyebabkan buku ini enak dibaca dan mudah dipahami walaupun sebenarnya sedang membahas sesuatu yang berat dan kompleks. Sejak dari awal hingga akhir pembahasannya mengalir secara alami menyiratkan bahwa penulisnya benar- benar menguasai persoalan akustik masjid yang berdasarkan bukan saja pada penguasaan aspek-aspek sains-rekayasa-teknologi namun juga aspek-aspek teknis-lapangan-masjid.

Format buku yang nyaris ensiklopedik (memuat semua masalah akustik masjid), namun tidak mencapai 150 halaman, dan dalam bentuk buku kecil saja sudah menyiratkan bahwa para penulisnya benar-benar adalah master atau empu dalam bidang ini. Buku ini dapat menjembatani antara keinginan para takmir untuk memberi layanan akustik prima kepada para jamaah dengan keterbatasan pengetahuan mengenai sunnatullah yang mengatur akustik masjid.

Selamat Ulang Tahun ke-100 untuk ITB

IATF mengucapkan selamat ulang tahun ke-100 bagi ITB!

Semoga semua alumni ITB, dan alumni TF ITB pada khususnya, dapat memberikan kontribusi yang berharga dan bermakna bagi kesejahteraan umat manusia, pembangunan peradaban dan kelestarian lingkungan di Indonesia maupun dan di dunia.

#100tahunitb

#iatfitb

Buff SkullRunners IATF dan Donasi TF1000

Halo-halo Alumni TF ITB dan SkullRunners!
Salam Keras, Kental dan Kuat!

Bagi alumni TF ITB yang berminat membeli Buff SkullRunners edisi tahun 2020 sekaligus berdonasi untuk adik-adik mahasiswa TF ITB, silahkan langsung isi link form ini dan transfer uangnya.

https://bit.ly/Buff-SkullRunners

Ini contoh Buff SkullRunners dan penampakan ganteng salah satu Alumni TF ITB yang mengenakan buff tersebut.

Ditunggu ya pemesanan dan pembayarannya. Pemesanan dan pembayaran paling lambat tanggal 30 Juni 2020.
ttd SkullRunners Team 💪🏼