Alumni TF ITB dan Rekan-Rekan Menciptakan “Simple and Low-Cost Mechanical Ventilator” untuk Menghadapi Pandemi COVID-19

Dr.-Aulia-Nasution-thumb

Dr. rer.nat Aulia Nasution (TF87)

Ditengah berbagai berita negatif mengenai pandemi COVID-19 yang tengah berlangsung, ada kabar positif yang datang dari Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang mengembangkan Simple and Low-Cost Mechanical Ventilator untuk membantu ketersediaan ventilator di Indonesia. Alumnus Teknik Fisika ITB angkatan 1987 dan juga alumni DAAD, Dr. rer.nat Aulia Nasution yang berprofesi sebagai dosen Teknik Fisika ITS, dipercaya menjadi Ketua Tim Pengembangan Ventilator yang diberi nama Emergency Ventilator ITS (E-VITS). Dalam kesempatan ini, Dr. rer.nat Aulia Nasution membagikan ceritanya kepada DAAD, berikut cerita yang beliau bagikan kepada Tim DAAD.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa wabah penyakit virus corona (coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19) adalah penyakit menular yang bermula menyebar dari kota Wuhan di Propinsi Hubei, China sejak akhir Desember 2019. Karena virus ini menyerang paru-paru dan mengakibatkan sesak napas (penumonia), maka penyakit pada mulanya mendapat sebutan sebagai Pneumonia Wuhan.

EVITS_1 - Aulia Nasution

Wabah COVID-19 telah menyebar ke 209 negara, termasuk di dalamnya Indonesia, dan WHO telah pula mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi Berdasar statistik yang dirilis oleh Gugus Tugas Percepata Penangan COVID-19, jumlah kasus yang terkonfirmasi secara nasional per tanggal 26 April 2020 sendiri telah mencapai 9,175 kasus ( 79.17 % dalam perawatan, 12.46 % sembuh, dan 18.37 % pasien meninggal). Tren kenaikan kasus terkonfirmasi menunjukkan kecenderungan pergerakan eksponensial (sumber: https://www. covid19.go.id/).

Karena virus ini menyerang sistem pernapasan dari penderitanya, maka resiko tercetusnya kondisi sesak napas hingga terjadinya kegagalan napas adalah keadaan yang akan dialami oleh pasien yang terinfeksi COVID-19. Kegagalan napas (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS) adalah kondisi dimana kantung udara paru-paru dipenuhi cairan lendir akibat reaksi infeksi, sehingga paru-paru tidak dapat menyediakan pasokan oksigen melalui proses difusi oksigen yang terjadi. Akibatnya kadar kandungan oksigen dalam jaringan tubuh (nilai tissue’s saturated oxygenation-StO2 akan mengalami penurunan). Kondisi penurunan kadar StO2 ini jika tidak ditangani dengan baik akan dapat berujung pada kematian pasien. Dalam kondisi inilah maka intervensi eksternal mutlak diperlukan, dan Ventilator merupakan instrumen klinis yang diperlukan untuk melakukan tugas ini.

Untuk mengatasi kelangkaan ketersediaan ventilator yang dimiliki oleh rumah sakit di Indonesia, serta prediksi akan melonjaknya penduduk negeri yang terkonfirmasi infeksi COVID-19, maka ITS telah mengembangkan Simple and Low-Cost Mechanical Ventilator untuk membantu tenaga medis dalam menangani perawatan pasien terinfeksi COVID-19. Upaya pengembangan ini merupakan bentuk kontribusi nyata ITS kepada masyarakat luas, yang saat ini sedang bahu membahu menghadapi penyebaran wabah virus yang memiliki laju penularan yang sangat cepat serta sangat berbahaya ini.

Prototype Emergency Ventilator ITS (E-VITS) ini dikembangkan oleh tim dari Departemen Teknik Fisika FTIRS ITS, yang saya ketuai sendiri serta dibantu oleh satu dosen muda dan 8 mahasiswa tingkat akhir dari Departemen TF-ITS. Protoype pertama telah berhasil diuji coba dan secara proof-of-concept dapat memenuhi beberapa kriteria kinerja ventilator emergency yang disyaratkan oleh kementerian Kesehatan RI. Pada tanggal 11 April 2020, prototype pertama ini telah di launching oleh Rektor ITS dan diberi nama E-VITS, yang merupakan singkatan dari Emergency Vintilator ITS. Pengembangan lanjutan dari prototype pertama ini dikhususkan untuk meningkatkan ketahanan operasional serta peningkatan kapabilitas sistem sensor, aspek pengamanan untuk penggunaan pasien. Kelangkaan sensor oksigen untuk mendeteksi rasio pencampuran oksigen: udara pada kadar 50% – 100% telah dapat kami selesaikan dengan pendekatan teknologi soft sensor. Saat ini pengembangan terakhir masih dalam tahap validasi akurasinya.

EVITS_2

Teknologi yang digunakan untuk pengembangan E-VITS.

Ventilator secara definisi adalah mesin yang digunakan untuk membantu memompakan udara bertekanan positip kedalam dan keluar paru-paru pasien, pada kasus dimana pasien tidak dapat (atau mengalami gangguan) pada sistem pernapasan tubuhnya.

Sistem yang dikembangkan oleh tim ITS ini adalah berbasis pada penggunaan Ambu Bag (Bag Valve Mask – BVM), yang secara generik dikenal dengan istilah manual resuscitator. Untuk desain komponen mekanis yang digunakan, kami mengacu pada desain open source yang telah dirilis oleh Tim dari MIT. Komponen ambu-bag dan sistem mekanis ini ini kemudian dilengkapi dengan sistem penggerak berbasis motor DC yang dapat diatur parameter operasionalnya untuk menyesuaikan dengan parameter fisiologis pernapasan pasien: i.e. Peak Inspiratory Pressure (PIP) , Positive end-expiratory pressure (PEEP), Respiratory Rate (dalam Breath Rate per minute – BPM), serta Tidal Volume.

Serangkaian sistem sensor (berbasis pengukuran tekanan dan flow) dan sistem kontroller juga ditambahkan untuk dapat mengatur kerja pemompaan motor DC, pengaturan parameter PIP, PEEP, Respiratory Rate, Tidal Volume, monitoring kadar oksigen saturasi pasien, serta pengaturan FiO2 (kadar oksigen dari udara yang dipompakan oleh ventilator ke dalam paru-paru, melalui pengaturan laju aliran udara terfilter dan suplai oksigen dari tabung gas atau sistem penyedia gas medis di ruang perawatan).

Sistem yang dikembangkan ini didesain dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang telah disusun dalam standar ISO 80601-2-12:2011 (Medical electrical equipment — Part 2-12: Particular requirements for basic safety and essential performance of critical care ventilators). Sistem yang dikembangkan ini telah dicoba untuk beroperasi secara nonstop beberapa kali (hingga 2×24 jam nonstop) dan telah menunjukkan kinerja luaran secara stabil.

Dalam desain ventilator ini kami berusaha mempertimbangkan ketersediaan komponen yang dapat diperoleh di pasaran lokal, terutama dalam pemilihan jenis-jenis motor, sensor, dan komponen pembangun sistem kontrol yang mudah diperoleh di pasaran lokal serta terjangkau harganya. Disamping itu kami juga memperhitungan kemudahan desain sistem agar saat realisasi proses fabrikasi nantinya dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.

EVITS_3

What’s next for E-VITS?

Dalam realisasi prototype desain ventilator ini tentunya dilakukan tidak tanpa kendala. Beberapa kendala dihadapi, khususnya ketersediaan beberapa komponen penyusun yang diperlukan. Terhadap kendala-kendala ini kami berusaha mencarikan solusi yang terbaik sehingga desain sistem secara lengkap dapat kami selesaikan. Kami pun bersyukur bahwa semua uji spesifikasi telah dilakukan secara internal dengan baik dan memuaskan, dan prototype ventilator E-VITS akan kami serahkan ke BPFK untuk proses pengujian seanjutnya. BPFK merupakan lembaga di bawah KEMENKES RI, yang secara resmi memiliki otoritas untuk menguji dan mengawasi penggunaan instrumen medis di Indonesia.

Tim kami berharap bahwa prototype E-VITS yang telah dikembangkan nantinya dapat diproduksi dan dimanfaatkan untuk menolong pasien terinfeksi COVID-19 yang membutuhkan. Kami berusaha untuk terus melakukan penyempurnaan yang dapat diintegrasikan kedalam protoype yang telah ada. Momen wabah COVID-19 ini telah dan diharapkan lebih memacu semangat anak bangsa dalam menggapai kemandirian akan pemenuhan kebutuhan teknologi nasionalnya. Semoga upaya yang telah dikerjakan dapat membawa manfaat sebesar besarnya bagi masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menghadapi serangan wabah COVID-19. Disertai harapan semoga pula badai wabah COVID-19 ini dapat segera berlalu.

(DAAD)

Berita ini diunggah ulang oleh IATF ITB dari website DAAD di hyperlink ini.

Berita online dari Kompas TV yang diunggah ulang oleh IATF ITB

 

Ngariung IATF Sabtu, 16 Mei 2020 – Digitalisasi Pertanian

81f13fbb-39aa-4818-9912-2dc2da1e65a6

Ngariung IATF atau acara kumpul-kumpulnya alumni TF ITB mengambil format kumpul-kumpul secara virtual akibat masih belum meredanya wabah Covid-19 di Indonesia, utamanya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dalam kesempatan kali ini IATF ITB menampilkan narasumber Nugroho Hari Wibowo (TF10) atau biasa dipanggil Bowo yang membawakan presentasi berjudul “Digitalisasi Pertanian – Mencapai Ketahanan Pangan & Produksi Berkelanjutan“. Ngariung IATF ini dilaksanakan secara virtual menggunakan aplikasi Zoom pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2020 pada jam 16.00 sampai 17.30.

Digitalisasi Pertanian Cover

Materi  presentasi dapat dilihat pada hyperlink berkut ini:

Slide Nugroho Hari Wibowo – BIOPS Agrotekno

Ada sekitar 75 peserta Ngariung IATF yang kebanyakan adalah alumni Teknik Fisika ITB dari berbagai angkatan. Beberapa peserta yang cukup dikenal khalayak ramai adalah Abah Rama Royani (TF64), Bpk Kusmayanto Kadiman (TF73) yang pernah menjabat sebagai Rektor ITB dan Menristek RI. Dari Dewan Penasehat IATF ada mas Urip Sedyowidodo (TF80), Mas Antonius Aji (TF86), serta Mas Estananto (TF92). Nampak juga Saifurrijal (TF99) selaku Ketua Bidang Alumni IATF, Robby Rahadia (TF05) selaku ketua Bidang Usaha IATF, Mas Agung DMS (TF85) yang mewakili pribadi sekaligus Panglima IATF Runners atau SkullRunners, David Anwar (TF97), Doni Tirtana (TF98) pemilik Bebek Dower, Anas Muttaqien (TF05) pengurus IATF cabang Bandung, mas Teguh Santosa (TF90) & mbak Jeanny Talumewo (TF92) mewakili pengurus IATF Golf, dll.

Pengurus IATF mengapresiasi dan mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mas Nugroho Hari Wibowo (TF10) yang telah meluangkan waktu untuk membagi ilmu dan pengalamannya kepada alumni TF ITB lainnya.

Pengurus IATF juga mengucapkan banyak terima kasih atas keikutsertaan serta partisipasi aktif dari semua alumni TF ITB yang hadir. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab akan segera direspon oleh mas Bowo selaku narasumber.

Rekaman video Ngariung IATF 16 Mei 2020 dapat dilihat dibawah ini.

Beberapa foto yang sempat diambil dari aplikasi Zoom

WhatsApp Image 2020-05-16 at 17.12.15WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.52.19WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.51.04WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.44.27WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.38.55WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.35.27WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.32.55WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.28.26WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.28.12WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.20.39WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.20.21WhatsApp Image 2020-05-16 at 16.27.56

 

Ngariung IATF Online – Mei 2020

Halo halo Alumni TF ITB!

Di masa pandemi Covid-19 yang melanda negeri kita, tetap saja silaturahmi, relasi dan ikatan kekeluargaan antar alumni TF ITB perlu dijaga. Salah satunya melalui acara “Ngariung IATF“, yakni acara kumpul-kumpulnya alumni TF ITB yang tak terelakkan sekarang harus mengambil bentuk pertemuan daring untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Acara Ngariung IATF kali ini menampilkan narasumber Nugroho Hari Wibowo (TF10) atau biasa dipanggil Bowo yang membawakan topik berjudul “Inovasi dan Bisnis Rintisan Teknologi Precision Farming“. Beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak banyak orang:

Apa itu Precision Farming? Bagaimana Precision Farming dapat meningkatkan produksi pertanian? Kesempatan apa yang ditawarkan Precision Farming untuk masa depan ketersediaan pangan Indonesia?

Catat tanggal, jam dan aplikasinya!

Hari/Tanggal: Sabtu, 16 Mei 2020

Jam: 16.00 – 17.30

Aplikasi: Zoom

Join URL: https://bit.ly/ngariungiatf

Password: iatf

Baiklah… Ditunggu partisipasinya ya!

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Pengurus Ikatan Alumni TF ITB

#iatfitb #ngariungiatf

Alumni TF ITB Ciptakan Inovasi ‘Paving Block’ Tahan Banjir

Bencana banjir yang terus terjadi di Indonesia telah menginspirasi sejumlah anak muda di Kota Bandung mengembangkan paving block berpori atau pore block.

Paving block berpori ini tidak menghambat penyerapan air ke tanah. Genangan air pun bisa dicegah.

“Dengan adanya pore block ini, pembangunan bisa terus dilakukan, tapi daerah resapan air bisa tetap dijaga juga. Jadi walaupun ekonomi meningkat, lingkungan tetap kita pedulikan,” jelas Anisa Azizah, co-founder Tech Prom Lab, kepada VOA di Bandung.

air menembus pori-pori
Air menembus pori-pori pore block sebagaimana didemonstrasikan oleh Tech Prom Lab di Bandung, Senin, 6 Januari 2020 siang.

Anisa Azizah sendiri adalah alumni Teknik Fisika ITB angkatan 2013 yang berperan sebagai Co-Founder dari Tech Prom Lab, perusahaan rintisan teknologi yang didirikannya, sekaligus menjabat sebagai CEO. Perusahaan rintisan ini juga didirikan oleh alumni Teknik Fisika ITB lainnya, yakni M. Rizqi Abdullah (TF13) yang berperan sebagai Co-Founder dan didapuk sebagai Research Development Manager. Tak lupa motor Tech Prom lainnya adalah Fauzan Muzaki (TF13) yang menjabat sebagai Production and Project Manager.

Anisa menjelaskan, pore block dapat ditembus air sampai 1000 mm/hari, berpuluh-puluh kali lipat dari paving block biasa.

co founder Anisa Azizah & Rizki Abdullah
Foto Anisa Azizah (TF13) dan M. Rizki Abdullah (TF13). Anisa Azizah, berharap pore block bisa mengurangi banjir di Indonesia.

Paving block berpori di pasaran biasanya tidak sekuat paving block biasa. Karena itu Tech Prom Lab mengembangkan bahan kimia yang membuat produknya tetap kuat.

“Karena kita dari teknik material. Kita teliti materialnya dan bisa mengembangkan bahan kimia yang membuat itu kuat tapi tetap berpori,” ujar mahasiswa MBA ITB ini.

Kekuatannya bahkan mencapai K-200 sampai K-350, setara dengan paving block kelas B sampai A.

Tech Prom Gaet Produsen Lokal

Perusahaan rintisan ini bekerjasama dengan pabrik paving block lokal di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Tangerang, Banten.

HR Manager Tech Prom Lab, Afif Bani Buchori, mengatakan pihaknya melakukan transfer teknologi kepada produsen lokal.

“Kita partnership dan vendoring begitu. Kalau misalnya di Makassar ada vendor nih yang punya pabrik (paving block) dia reach out kita, ya kita akan ke sana dan transfer teknologi. Dia akan jadi operasi daerah Makassar,” jelas dia.

proyek techprom
Pore block telah digunakan di sejumlah lokasi, salah satunya di Sekolah Yayasan Al-Haq, Kota Bandung. (Courtesy: Tech Prom Lab)

Berdiri pada 2018, Tech Prom Lab berhasil menjual paving block berpori pertamanya setahun kemudian.

Dipasarkan lewat kerabat dan pameran, pore block kini sudah digunakan di hampir 10 lokasi di Bandung, Sumedang, dan Tangerang. Mulai dari rumah, pemukiman, sampai lapangan sekolah.

Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Harga pore block sebetulnya sama dengan paving block kelas A. Namun masyarakat masih memilih paving block kelas yang lebih rendah karena lebih murah.

Karena itu, kata Afif, pihaknya berupaya menyadarkan masyarakat akan manfaat pore block.

uji pore block
Dalam pengujian, pore block dapat ditembus air sampai 1000 mm / hari, berpuluh-puluh kali lipat dibandingkan paving block biasa.

“Karena kami basis isunya lingkungan, ya kami sekalian edukasi masyarakat. Instagram kami full dengan education. Kami niatnya emang mengenalkan dulu. Begitu mereka sudah tahu, mereka akan datang kan,” tambah Afif, lulusan MBA ITB.

Perusahaan berisi tujuh anak muda ini berencana mengembangkan sayap operasi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2020.

Selain itu, mereka akan mulai mengembangkan pore block memakai abu layang (fly ash), limbah pembakaran batu bara.

Anisa berharap, produknya bisa membantu penanganan banjir di Indonesia.

Pore block ini hanya salah satu solusi, dan masih banyak solusi-solusi lain. Masyarakat bisa lebih aware terhadap lingkungan, dan bisa memakai barang-barang yang ramah lingkungan seperti pore block ini,” harapnya.

Bravo Alumni Teknik Fisika ITB!

Disadur dari berbagai sumber & referensi: Berita VOA Indonesia

Kita Berjuang Bersama!!!

Kita berjuang bersama!

Jangan biarkan dokter, perawat, petugas medis, sukarelawan, Polri dan TNI berjuang sendiri!

Kita bantu mereka dengan menjaga kesehatan kita sendiri dan keluarga sambil tinggal di dalam rumah, jaga jarak dengan orang-orang lain ketika di ruang publik, jaga solidaritas sosial dengan rekan-rekan kerja.

Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian!

Kita berjuang bersama!

#iatfitb #covid19indonesia #supportdokterindonesia #supporttenagakesehatan #pahlawankemanusiaan #bersamakitabisa

Picture credit: @bisaditunggulabs

Alumni TF ITB Bersatu Mendukung TF ITB Melawan Corona Virus

itb kuliah online

IATF mengekpresikan keprihatinan yang mendalam dengan wabah COVID-19 yang menjadi pandemi global, termasuk di tanah air. Pandemi global ini mengakibatkan banyak aktivitas di tanah air tidak bisa berjalan normal dan sampai saat tulisan ini dibuat belum ada tanda-tanda meredanya wabah COVID-19.

ITB telah mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran COVID, termasuk melakukan perkuliahan secara daring (dalam jaringan/online) untuk mengurangi konsentrasi massa yang besar dan mengurangi transmisi virus.  Hal ini membuat mahasiswa ITB harus mengakses internet dari tempat tinggal masing-masing. Namun disisi lain ternyata tidak semua mahasiswa ITB mempunyai kemampuan memiliki akses internet yang cukup dan layak, termasuk mahasiswa Teknik Fisika ITB.

Saat ini mayoritas mahasiswa Teknik Fisika ITB mengakses materi perkuliahan melalui internet menggunakan telepon seluler dengan kuota internet terbatas. Tak pelak hal ini menambah pengeluaran mahasiswa TF ITB untuk membeli tambahan kuota internet dan semakin menghimpit terutama bagi mahasiswa TF ITB dari golongan ekonomi yang kurang.

Merespon keadaan ini, IATF melakukan penggalangan dana dan meminta kesediaan alumni TF ITB untuk berpartisipasi meringankan beban ekonomi adik-adik mahasiswa TF ITB. Dana dapat ditransfer ke

Rekening Penampung TF 1000
a/n Embun Marintan TF09 (Bendahara IATF ITB)

BCA 8705297076
Mandiri 1250009844127
BNI 0721704746

Mohon bukti transfer dikirimkan ke Sdri Embun Marintan Hp: +62 821 26313621

Laporan Hasil Penggalangan Dana per 17 Maret 2020
Dana Masuk Rp. 11,150,266
Penggunaan Rp. 4,300,000

Update: Laporan Hasil Penggalangan Dana per 26 Maret 2020
Dana Masuk Rp. 14,350,266
Penggunaan Rp. 4,500,000

 

Semoga kebaikan hati para alumni TF mendapat balasan yang setimpal.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Buku “Komersialisasi Teknologi” karya Eko Agus Prasetio (TF91) dkk

IATF ITB turut bangga dengan hasil kreativitas dan kerja keras salah satu alumni TF ITB, yakni Eko Agus Prasetio (TF91) dan beberapa kolega lainnya dalam menelurkan karya berupa buku.

Berikut ini berita yang dibuat oleh beliau di akun media sosialnya:

Alhamdulillah, buku yang kami susun terbit juga. Awal yg baik di 2020 ini, mudah-mudahan.

“Komersialisasi teknologi: Bagaimana proses invensi menjadi inovasi di perguruan tinggi menuju entrepreneurial university”

Mudah-mudahan bisa sedikit memberi pencerahan bagaimana peneliti-peneliti di Perguruan Tinggi (PT), di ITB khususnya, melakukan komersialisasi hasil-hasil penelitian mereka, baik melalui lisensi, kerjasama riset dengan industri, maupun mendirikan perusahaan rintisan/startup.

Buku ini juga berusaha menampilkan proses formal dan informal serta model komersialisasi. Technology Transfer Office (TTO) dan Science Tech Park (STP) juga dibahas sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari komersialisasi teknologi di PT.

Terimakasih kepada Pak Kusmayanto Kadiman (TF73), mantan Menristek dan rektor ITB yg berkenan memberikan Kata Pengantar, dan Pak Dekan SBM ITB yang berkenan memberikan Kata Sambutan.

Catatan pribadi dari mas Eko:

banyak yang nanya: saat ini buku sedang dalam masa cetak. Akan diinfokan selanjutnya bagaimana untuk mendapatkan secara offline/online.

Alumni TF ITB Ciptakan Inovasi Kursi Roda Bagi Penyandang Disabilitas

Foto Lydia Anggraeni Kidarsa (TF93). Sumber foto: CNN Indonesia

Lydia Anggraeni Kidarsa adalah alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1993. Berita ini diambil dari laman berita CNN Indonesia.

Bandung, CNN Indonesia — Keterbatasan fisik tak membuat Lydia Anggraeni Kidarsa mudah menyerah dalam menjalani hidup. Baru-baru ini penyandang spinal muscular atrophy itu mendesain alat bantu disabilitas menjadi lebih nyaman, berfungsi baik, dan juga menarik.

Dalam sebuah kesempatan acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Balai Kota Bandung, Sabtu (9/12), Lydia memamerkan karya kursi roda bagi disabilitas ciptaannya.

Salah satu yang menarik perhatian adalah kursi roda tersebut diberi tampilan etnik dengan kain tradisional. Dilihat dari modelnya yang unik, orang-orang mungkin tidak menyangka kalau itu adalah hasil karya seorang penyandang disabilitas.

Selain itu, wanita asal Bandung ini juga membuat kursi roda bagi penyandang spinal muscular atrophy, serta kursi roda khusus bagi bayi kembar siam asal Garut, Jawa Barat bernama Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewiningsih.

Karya-karya wanita berusia 43 tahun ini memang tak banyak dipamerkan. Hal itu karena alat bantu dan mobilitas yang dia ciptakan tidak diproduksi secara massal.

“Satu unit kursi roda prosesnya bisa sampai tiga bulan. Basic-nya custom, begitu jadi langsung dibawa sama penggunanya,” kata dia.

Dituturkan Lydia, alat bantu jalan yang ia bikin menerapkan bioteknik desain dengan mengutamakan kenyamanan bagi penggunanya. Beberapa produk ciptaannya dapat juga dilihat publik di situs kursirodaanak.com.

Dalam proses pembuatannya, Lydia biasa mengukur sesuai kebutuhan si pemakai. 

“Buat janji pertemuan, nanti anak akan diperiksa dan diukur. Setelah setengah jadi ada proses fitting, kalau-kalau ada perubahan langsung dilakukan. Bila sudah pas alat dibawa pulang,” jelasnya.

Lulusan perguruan tinggi negeri riset di Imperial College London tersebut mengaku sejumlah karya dan produk-produk yang dihasilkan banyak peminat dan saat ini sudah diminati berbagai daerah seperti Jakarta, Medan dan lain-lain.

Merintis sejak 2006

Lydia mengalami kondisi spinal muscular atrophy tipe 3 di mana dia tidak bisa jauh berjalan. Dalam usia empat tahun, Lydia didiagnosa mengalami kelainan genetik tersebut.

“Jalannya melamban dan mudah capek. Kalau harus berjalan jauh saya membutuhkan tongkat,” ucapnya.

Sebagai anak berkebutuhan khusus, Lydia diberi kesempatan berkembang berkat dukungan keluarga. Dia diberi kesempatan bermain dan berpartisipiasi di lingkungannya.

Dorongan keluarga terhadap pendidikan Lydia amat nyata. Dia berhasil menyelesaikan studi S-1 Teknik Fisika ITB, dan S2 teknik biomedika dan teknik desain industri di Royal College of Art dan University of Surrey.

Lydia kemudian merintis usaha di bidang bioteknik desain sejak 2006 silam. Setelah mengikuti salah satu program beasiswa, permintaan akan produknya meningkat sehingga dia menambah asisten untuk membantunya.

Saat ini, alat bantu postural mobilitas yang sudah dia buat antara lain kursi roda, kursi aktivitas, alat bantu berdiri dan alat bantu berjalan. Rancangan Lydia bukan sekadar alat bantu, tapi juga bisa digunakan sebagai bagian dari penampilan mereka.

Dikatakan Lydia, pengalaman hidup memotivasi dirinya untuk menghasilkan produk-produk bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan harapan anak-anak tersebut bisa berkembang di lingkungan masing-masing tanpa kesulitan.

“Tidak semua anak mendapatkan kesempatan ini. Karena itu saya bercita-cita menciptakan kursi roda yang membantu aktivitas mereka,” ucapnya.  

Tonton wawancara dengan mbak Lydia Kidarsa mengenai kiprahnya di dunia bioteknik dalam rangkaian Reuni Perak ITB93.

 

Ada Dosen TF ITB Tergabung di IATF Runners

Dear Alumni TF ITB yang baik hatinya…

Tahun 2018 lalu peserta ITB Ultra Marathon 2018 dari dosen TF ITB di tim IATF Runners adalah pak Edi Leksono (TF78) dan pak Brian Yuliarto (TF94) yang kebetulan juga Kaprodi TF ITB.

Tahun 2019 ini alhamdulillah kedua dosen TF tsb masih setia bergabung dengan IATF Runners di ITB Ultra Marathon 2019 dan ditambah dengan wajah-wajah baru dari TF ITB seperti pak Augie Widyotriatmo (TF95), pak Suyatman (TF76), pak Deddy Kurniadi/Dekan FTI ITB (TF82), pak Wisnu Hendradjit (TF75) dan pak Hermawan KD (TF74).

Beri applause untuk kakak2 kita dosen TF ITB 👏👏👏 Beri dukungan mereka dengan donasi disini:

https://kitabisa.com/campaign/skullrunners

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

#iatfitb #itbultramarathon2019