Guru Besar Teknik Fisika ITB

Pengurus IATF dan segenap alumni Teknik Fisika ITB mengucapkan syukur dan selamat atas penganugerahan gelar

Guru Besar / Profesor kepada Bpk Brian Yuliarto, ST, M.Eng, Ph.D

Bertambah lagi guru besar di program studi Teknik Fisika ITB. Semoga gelar ini menjadi pemacu bagi pak Brian dan alumni TF lain supaya kiprahnya dapat semakin bermanfaat dan semakin luas bagi masyarakat Indonesia.

Pak Brian adalah alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1994 dan saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Fisika ITB.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Foto-foto beliau ketika di acara ITB Ultra Marathon 2018 dimana beliau menjadi salah satu pelari andalan IATF Runners.

IATF Rapat dengan HiMII

Hari ini (28/11) Ikatan Alumni Teknik Fisika (IATF) ITB mendapat kehormatan diundang oleh Himpunan Masyarakat Instrumentasi Indonesia (HiMII) untuk mendengarkan pemaparan mengenai HiMII sebagai asosiasi insinyur instrumentasi di Indonesia oleh pendirinya, yakni Profesor Harijono A. Tjokronegoro (guru besar Teknik Fisika ITB) dan Bapak DR Hussein Akil (TF77) Profesor Riset dari LIPI. Rapat bertempat di kantor PT Yokogawa Indonesia di Gedung Oleos Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, dengan pak Sudarto Ramli/TF82 (Director of Technology Yokogawa Indonesia) sebagai tuan rumah.

Foto 1. Foto bersama peserta rapat HiMII

Asosiasi ini sebenarnya sudah ada semenjak tahun 1977 bahkan sudah ada akte notarisnya, namun terdengar asing bagi rekan-rekan alumni Teknik Fisika yang berprofesi sebagai Instrument Engineer di Indonesia. Ini lebih disebabkan karena pengurusnya – mungkin anggota-anggotanya juga waktu itu – kebanyakan adalah peneliti dan dosen. Keanggotaan HiMII belum luas, belum sampai menjangkau praktisi di industri proses, manufaktur, pertambangan, jasa kerekayasaan maupun industri pendukung (vendor/penyedia teknologi). Berbeda dengan asosiasi profesi di negara maju yang justru kelahirannya dan keberlangsungannya dimotori oleh kalangan industri dan penyedia teknologi karena kalangan industri selalu menuntut teknologi dan para ahli teknologi yang bisa membuat teknologi yang lebih aman, lebih murah dan lebih efisien.

Isu-isu mulai muncul, baik disisi perusahaan penyedia teknologi, perusahaan perekayasaan maupun perguruan tinggi di era dimana kompetisi antar negara mulai menyeruak. Contoh terbaru disampaikan oleh pak Sudarto Ramli (TF82) di industri penyedia teknologi/kerekayasaan dimana dalam pengurusan izin untuk usaha konstruksi, perusahaan penyedia teknologi instrumentasi seperti “bertamu ke rumah sendiri”, minta izinnya ke asosiasi profesi lain seperti asosiasi kelistrikan yang notabene mayoritas lulusan dari Teknik Elektro. Lho, lantas alumni Teknik Fisika yang bekerja di bidang instrumentasi menginduk ke asosiasi mana? Tidak ada! Karena memang tidak dikenal asosiasinya.

Kalangan perguruan tinggi pun tidak kalah galaunya. Perguruan tinggi, seperti yang disampaikan Bpk Purwadi AD (dosen Teknik Fisika ITS), yang mempunyai jurusan vokasi seperti di ITS ada vokasi instrumentasi (sudah lepas dari Teknik Fisika) bisa menerbitkan ijazah, tapi standar kompetensinya hanya bisa diterbitkan oleh asosiasi profesi instrumentasi. Kebingungan pun muncul asosiasi profesi yang mana yang bisa menerbitkan sertifikat yang relevan dengan kompetensi instrumentasi? Menjadi lucu dan aneh jika perguruan tinggi mensertifikasi sendiri lulusannya sebagai orang yang kompeten, namun pengguna lulusan perguruan tinggi seperti industri dan penyedia jasa kerekayasaan/teknologi malah menganggap tidak kompeten. Kalangan industri dan penyedia jasa kerekayasaan/teknologi yang paling tahu standar kompetensi seperti apa yang dibutuhkan.

Foto 2. Profesor Harijono A. Tjokronegoro memberikan pemaparan tentang Himpunan Masyarakat Instrumentasi Indonesia (HiMII)

Pak Teten Rustendi (TF84) mewakili industri proses dari PT Badak LNG menyampaikan concern mengenai arah bergeraknya HiMII, apakah menuju ke pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) atau yang lainnya. Pembentukan LSP sendiri tidak mudah namun bukannya tidak mungkin dilakukan oleh HiMII. Pak Teten sharing mengenai pengalamannya membentuk LSP untuk sekitar 30 jenis profesi yang terkait di sektor Minyak Bumi dan Gas di lingkungan PT Badak LNG, perlu waktu paling tidak satu tahun dan biaya tidak sedikit untuk merampungkan sampai diajukan ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Nugroho Wibisono (TF98) dari IATF ITB sekaligus mewakili industri proses (Medco Energi) dalam rapat tersebut menyampaikan pentingnya HiMII mempunyai positioning yang jelas terhadap institusi-institusi yang bertebaran di Indonesia seperti Persatuan Insinyur Indonesia (PII) serta Badan Kejuruan Teknik Fisika (BKTF PII), Program Profesi Insinyur (PPI) oleh perguruan tinggi, Dewan Insinyur Indonesia, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Para insinyur instrumentasi di Indonesia pasti akan pusing atau kebingungan jika ketidakjelasan positioning ini ditransfer begitu saja kepada mereka. Terutama jika hal ini menyangkut sertifikasi dan registrasi insinyur yang membolehkan insinyur berpraktek di Indonesia, seperti yang diamanatkan Undang Undang Keinsinyuran.

Pak Priatna Ahmad Budiman perwakilan dari Ikatan Alumni Teknik Fisika ITS (IKA TF ITS) sekaligus mewakili perusahaan perekayasaan dan rancang bangun (PT Rekayasa Industri) menyampaikan perlunya HiMII juga merangkul industri lain selain industri proses seperti industri manufaktur (i.e: otomotif), industri pertambangan dan industri lain yang kental diwarnai oleh instrumentasi dan kontrol. Sehingga HiMII menjadi asosiasi profesi instrumentasi yang lebih dikenal luas dan menaungi banyak industri.

Memang diakui oleh Prof Harijono bahwa asosiasi profesi ini selayaknya terdiri dari kalangan industri, perusahaan perekayasaan, perusahaan penyedia teknologi, akademik/peneliti supaya saling melengkapi. Asosasi profesi instrumentasi, yakni HiMII, dapat memainkan peran/positioning sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang Instrumentasi, seperti diamanatkan UU sehingga kompetensi insinyur instrumentasi dapat diakui sebagai profesi yang berdiri sendiri.

Tugas selanjutnya adalah menata HiMII supaya secara organisasi lebih baik (tidak hanya terdiri dari dua orang saja seperti yang sekarang terjadi) dan meneruskan proses HiMII sebagai LSP untuk insinyur instrumentasi supaya diakui oleh BNSP sehingga keberadaan HiMII dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Foto 3. Kiri-kanan: Ahmad Meiriansyah (TF98), Nugroho Wibisono (TF98) dan Saifurrijal (TF99)

Foto 4. Weby (TF98) berfoto dengan pak Tjipto Kusumo (TF64) dari Badan Kejuruan Teknik Fisika – Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

IATF Runners di ITB Ultra Marathon 2018

Alhamdulillah, tim SkullRunners IATF dan tim TengkorakRunners IATF akhirnya dapat finish bersama di Kampus ITB hari Sabtu, 14 Oktober 2018 jam 02.00 setelah sebelumnya start dari Wisma BNI Jakarta hari Jumat, 12 Oktober 2018 jam 22.00. Rasa syukur kita panjatkan karena semua pelari serta tim support dalam keadaan selamat, sehat, tak kurang suatu apapun.

Kebersamaan, kekompakan dan kolaborasi alumni TF ITB berbagai angkatan (paling senior angkatan 1978 dan paling yunior angkatan 2011) dalam menyusun strategi berlari, berlatih bersama, melakukan pengawalan sepanjang 170 km, penyediaan hidrasi & konsumsi, mengantisipasi hal-hal yang tak terduga dll selama 28 jam terus menerus benar-benar menguras tenaga, energi dan waktu semua Alumni TF ITB yg terlibat.

Semua kerja keras Alumni TF ITB yg terlibat terbayar dengan kegembiraan dan kebahagiaan mencapai garis finish. Apalagi makin dipercantik dengan sambutan yang ramai dan meriah oleh Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik ITB (HMFT) di kampus ITB. Good job HMFT!

Rangkaian ITB Ultra Marathon 2018 ini ditutup dengan acara victory run dengan rute dari Rektorat ITB hari Minggu, 14 Oktober 2018 jam 08.00 pagi dan kumpul bareng alumni TF yang berada di kampus pada hari itu di Lounge TF ITB, Labtek VI.

Kumpul bareng alumni TF setelah acara ITB Ultra Marathon 2018 di Prodi TF ITB selain juga bisa disebut sebagai reuni, juga syukuran alumni TF yang berhasil dalam mengelola tim IATF sepanjang perhelatan ITB Ultra Marathon 2018. Dalam acara tersebut diberikan update terbaru mengenai hasil kampanye penggalangan dana Run For TF1000 dengan dana terkumpul sekitar Rp. 70 juta dan masih terus bertambah oleh ketua IATF Weby (TF98) yang secara simbolik diserahkan kepada Kaprodi TF ITB. Kumpul bareng ini juga diisi oleh kesan-pesan dari

  • Panglima Besar Tim Support IATF Runners yakni Agung DM Sahidi (TF85) yang menekankan betapa pentingnya mengenal sesama alumni TF karena lebih kuatnya hubungan personal dalam menentukan hubungan profesional.
  • Peserta ITB Ultra Marathon dari TF ITB paling senior sekaligus sponsor tim IATF Runners, yakni Kusetiadi Raharjo alias Mbahjo (TF84) yang menyampaikan betapa bahagianya beliau menemukan komunitas yang positif dan saling mendukung, apalagi sesama alumni TF yang seperguruan.
  • Peserta ITB Ultra Marathon dari TF ITB paling yunior sekaligus Queen of Mountain yakni Felicia Angelina (TF09) mengungkapkan kegembiraannya bisa mengenal dan berkumpul dengan alumni TF yang lebih senior yang tentunya lebih kaya pengalaman dan pengetahuan.
  • Ketua Program Studi Teknik Fisika ITB sekaligus anggota tim IATF Runners yakni pak Brian Yuliarto (TF94) menyampaikan bahwa mahasiswa ITB dan di TF yang kekurangan secara ekonomi masih banyak (lebih dari 20% dari populasi), meski kelihatannya makin banyak mobil bertebaran di kampus ITB. Pak Brian mengungkapkan rasa terima kasihnya atas usaha IATF dan rekan-rekan tim IATF Runners dalam penggalangan dana TF1000 yang sangat diperlukan untuk menyokong biaya pendidikan mahasiswa di TF ITB mengingat masih adanya mahasiswa yang secara ekonomi kurang mampu namun beasiswa yang ada di ITB tidak dapat memenuhi semua kebutuhan beasiswa tersebut.

Tidak hanya olahraga berlari dan pengabadian momen-momennya, secara tidak sadar ajang ITB Ultra Marathon ini telah mempersatukan Alumni TF ITB yang tidak terlalu mengenal sebelumnya. Ajang ini juga merupakan bentuk silaturahmi/networking, bisa mengenal para alumni TF ITB lain yang kebetulan membantu tim angkatannya, maupun alumni ITB jurusan lain sepanjang lintasan rute lari 170 KM. Luar biasa!

Akhir kata, saya mewakili segenap pengurus IATF mengucapkan selamat kepada semua Alumni TF ITB dan adik-adik HMFT, baik yang terlibat langsung maupun yang tidak terlibat langsung, atas partisipasi dan kebersamaannya di BNI ITB Ultra Marathon 2018. Insyaallah kita akan dipertemukan dalam ajang silaturahmi lainnya dan acara yang kita adakan kedepannya bisa lebih baik lagi, bisa lebih meriah dan lebih banyak Alumni TF ITB lainnya yg terlibat.

Namun perjuangan penggalangan dana TF1000 melalui kampanye Run For TF1000 masih tetap dilanjutkan sampai November 2018. Kami, para pelari IATF, masih membuka kesempatan setiap 1 Kilometer kami berlari dari Jakarta ke Bandung, maka ada satu atau beberapa alumni TF lainnya berkontribusi sebanyak Rp 1 juta.

Donasikan melalui:
https://kitabisa.com/runfortf1000

Terima kasih dan sekali lagi selamat untuk semua Alumni TF ITB!

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Berikut ini adalah link dari sebagian dokumentasi tim IATF Runners:

http://bit.ly/SkullRunners-ITBUM2018

 

Salam,
Nugroho Wibisono/Weby (TF98)
Manajer Tim IATF Runners 2018

 

Tentang Mengajar

bang Mual Sihombing

Oleh: Mual Sihombing (TF95)

Pertama sekali saya mengajar tahun 1996 di Bimbel di Bandung adalah karena keterpaksaan. Sebagai mahasiswa rantau yang tidak memiliki uang cukup untuk sekedar makan, maka mendapatkan uang dari mengajar bimbel dan privat adalah cara yang saya tempuh pada masa itu. Apakah saya bagus dalam mengajar? Rasanya tidak juga. Pada awalnya saya banyak gugup dan fokus pada materi yang sudah saya hafalkan mati dari rumah. Namun dalam perjalanan waktu, saya mulai bisa mengalir lancar dan berinteraksi dengan siswa, melibatkan mereka dalam “kelas” saya sambil sesekali bercanda.

Continue reading “Tentang Mengajar”

Alumni TF di PT Badak, Benteng Bangsa FT92 dan TF98

Sahabat Alumni TF ITB,

Kemarin saya berkomunikasi dengan kak Teten Rustendi, alumni TF ITB angk 84 yang baik hatinya dan selalu sigap membantu IATF dan TF ITB kapanpun diperlukan. Begitu mudahnya beliau dikontak, sehingga kadang saya tidak sadar bahwa beliau ini sebenarnya pejabat tinggi di PT Badak LNG lho! Pejabat tinggi kan biasanya susah dihubungi hehe.

Beliau mengungkapkan di PT Badak LNG banyak alumni TF dari berbagai generasi, dan mudah saja sebenarnya Alumni TF ITB tergerak membantu “asal ada koordinatornya”. Buktinya dalam satu hari saja sudah terkumpul Rp. 10 juta untuk gerakan Run For TF1000. Ini baru satu perusahaan yang ada alumni TF-nya, perusahaan lain yang ada alumni TF-nya pasti bisa tergerak juga asalkan ada koordinatornya. Benar juga nih, pikir saya dalam hati, dan meleleh lah air mata saya mengingat kebaikan hati mereka.

Perlunya ada koordinator di satu perusahaan itu satu contoh. Contoh lain yang bagus dan sudah terbukti ada di FT angkatan 92. FT angkatan 92 ini angkatan yang luar biasa. Saya tahu FT92 angkatan yang luar biasa dari Mas Shodiq Wicaksono (FT92). FT angkatan 92 punya yang namanya Yayasan Benteng Bangsa FT92. Dugaan saya (sebenarnya belum nanya mereka sih hehe) yayasan ini dibentuk untuk menyalurkan hasrat sosial mereka ke berbagai event. Beliau menghubungi saya melalui pesan whatsapp: apakah bisa FT92 menjadi sponsor IATF Run For TF1000 dengan uang Rp. 10 juta? Selain berdonasi, FT92 ingin mendukung kegiatan IATF supaya lebih maju lagi. Meleleh lagi air mata saya.

Apa yang dinasehatkan oleh kak Teten dan dicontohkan mas Shodiq, saya coba di angkatan saya, FT98. Saya hubungi satu per satu temen2 angkatan saya, saya kompori tiap hari dan… lho bener saja, ga sampai beberapa hari sudah terkumpul hampir Rp.15jt! Memang kalo nasehat dan contoh yang baik kemudian kita tiru dengan niatan yang baik, hasilnya akan baik juga!

Semoga Tuhan membalas budi baik Alumni TF ITB yang telah berkontribusi, diberikan rezeki yang berkah, diberikan umur panjang untuk mendukung pendidikan di TF ITB lebih baik lagi dan dapat bersama-sama terus membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik, aamiin yra.

Ayo alumni TF ITB, kita dukung tim kita!

kitabisa.com/runfortf1000

salam,

Weby (TF98)

Ketua IATF ITB

Jakarta, 27 September 2018

Note: TF1000 adalah program beasiswa di lingkungan Teknik Fisika ITB dan terutama bagi mahasiswa Teknik Fisika ITB yang kekurangan secara ekonomi, selain juga untuk bantuan pembiayaan tugas akhir. Ke depannya, selain beasiswa, TF1000 diarahkan untuk membantu pengembangan fasilitas di TF ITB.

Kusmayanto Kadiman (TF73) Mendukung Run For TF1000

Saya Kaka (Kusmayanto Kadiman), Fisika Teknik angkatan 1973. Saya percaya bahwa rajutan silaturahmi itu positif efeknya bagi Almamater dan Alumni.

Run4TF1000 adalah salah satu manifesto dari rajutan silaturahmi. Selain mengisi pundi TF1000 secara berkala, saya khusus menambah pundi TF1000 untuk the extra kilometer. Mari ramaikan, dukung tim Alumni TF ITB dan isi pundi TF1000!

https://kitabisa.com/runfortf1000