Kita Berjuang Bersama!!!

Kita berjuang bersama!

Jangan biarkan dokter, perawat, petugas medis, sukarelawan, Polri dan TNI berjuang sendiri!

Kita bantu mereka dengan menjaga kesehatan kita sendiri dan keluarga sambil tinggal di dalam rumah, jaga jarak dengan orang-orang lain ketika di ruang publik, jaga solidaritas sosial dengan rekan-rekan kerja.

Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian!

Kita berjuang bersama!

#iatfitb #covid19indonesia #supportdokterindonesia #supporttenagakesehatan #pahlawankemanusiaan #bersamakitabisa

Picture credit: @bisaditunggulabs

Alumni TF ITB Bersatu Mendukung TF ITB Melawan Corona Virus

itb kuliah online

IATF mengekpresikan keprihatinan yang mendalam dengan wabah COVID-19 yang menjadi pandemi global, termasuk di tanah air. Pandemi global ini mengakibatkan banyak aktivitas di tanah air tidak bisa berjalan normal dan sampai saat tulisan ini dibuat belum ada tanda-tanda meredanya wabah COVID-19.

ITB telah mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran COVID, termasuk melakukan perkuliahan secara daring (dalam jaringan/online) untuk mengurangi konsentrasi massa yang besar dan mengurangi transmisi virus.  Hal ini membuat mahasiswa ITB harus mengakses internet dari tempat tinggal masing-masing. Namun disisi lain ternyata tidak semua mahasiswa ITB mempunyai kemampuan memiliki akses internet yang cukup dan layak, termasuk mahasiswa Teknik Fisika ITB.

Saat ini mayoritas mahasiswa Teknik Fisika ITB mengakses materi perkuliahan melalui internet menggunakan telepon seluler dengan kuota internet terbatas. Tak pelak hal ini menambah pengeluaran mahasiswa TF ITB untuk membeli tambahan kuota internet dan semakin menghimpit terutama bagi mahasiswa TF ITB dari golongan ekonomi yang kurang.

Merespon keadaan ini, IATF melakukan penggalangan dana dan meminta kesediaan alumni TF ITB untuk berpartisipasi meringankan beban ekonomi adik-adik mahasiswa TF ITB. Dana dapat ditransfer ke

Rekening Penampung TF 1000
a/n Embun Marintan TF09 (Bendahara IATF ITB)

BCA 8705297076
Mandiri 1250009844127
BNI 0721704746

Mohon bukti transfer dikirimkan ke Sdri Embun Marintan Hp: +62 821 26313621

Laporan Hasil Penggalangan Dana per 17 Maret 2020
Dana Masuk Rp. 11,150,266
Penggunaan Rp. 4,300,000

Update: Laporan Hasil Penggalangan Dana per 26 Maret 2020
Dana Masuk Rp. 14,350,266
Penggunaan Rp. 4,500,000

 

Semoga kebaikan hati para alumni TF mendapat balasan yang setimpal.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

Buku “Komersialisasi Teknologi” karya Eko Agus Prasetio (TF91) dkk

IATF ITB turut bangga dengan hasil kreativitas dan kerja keras salah satu alumni TF ITB, yakni Eko Agus Prasetio (TF91) dan beberapa kolega lainnya dalam menelurkan karya berupa buku.

Berikut ini berita yang dibuat oleh beliau di akun media sosialnya:

Alhamdulillah, buku yang kami susun terbit juga. Awal yg baik di 2020 ini, mudah-mudahan.

“Komersialisasi teknologi: Bagaimana proses invensi menjadi inovasi di perguruan tinggi menuju entrepreneurial university”

Mudah-mudahan bisa sedikit memberi pencerahan bagaimana peneliti-peneliti di Perguruan Tinggi (PT), di ITB khususnya, melakukan komersialisasi hasil-hasil penelitian mereka, baik melalui lisensi, kerjasama riset dengan industri, maupun mendirikan perusahaan rintisan/startup.

Buku ini juga berusaha menampilkan proses formal dan informal serta model komersialisasi. Technology Transfer Office (TTO) dan Science Tech Park (STP) juga dibahas sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari komersialisasi teknologi di PT.

Terimakasih kepada Pak Kusmayanto Kadiman (TF73), mantan Menristek dan rektor ITB yg berkenan memberikan Kata Pengantar, dan Pak Dekan SBM ITB yang berkenan memberikan Kata Sambutan.

Catatan pribadi dari mas Eko:

banyak yang nanya: saat ini buku sedang dalam masa cetak. Akan diinfokan selanjutnya bagaimana untuk mendapatkan secara offline/online.

Cerita Lydia (TF93), Penyandang Disabilitas yang Bikin Kursi Roda

Foto Lydia Anggraeni Kidarsa (TF93). Sumber foto: CNN Indonesia

Lydia Anggraeni Kidarsa adalah alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1993. Berita ini diambil dari laman berita CNN Indonesia.

Bandung, CNN Indonesia — Keterbatasan fisik tak membuat Lydia Anggraeni Kidarsa mudah menyerah dalam menjalani hidup. Baru-baru ini penyandang spinal muscular atrophy itu mendesain alat bantu disabilitas menjadi lebih nyaman, berfungsi baik, dan juga menarik.

Dalam sebuah kesempatan acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Balai Kota Bandung, Sabtu (9/12), Lydia memamerkan karya kursi roda bagi disabilitas ciptaannya.

Salah satu yang menarik perhatian adalah kursi roda tersebut diberi tampilan etnik dengan kain tradisional. Dilihat dari modelnya yang unik, orang-orang mungkin tidak menyangka kalau itu adalah hasil karya seorang penyandang disabilitas.

Selain itu, wanita asal Bandung ini juga membuat kursi roda bagi penyandang spinal muscular atrophy, serta kursi roda khusus bagi bayi kembar siam asal Garut, Jawa Barat bernama Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewiningsih.

Karya-karya wanita berusia 43 tahun ini memang tak banyak dipamerkan. Hal itu karena alat bantu dan mobilitas yang dia ciptakan tidak diproduksi secara massal.

“Satu unit kursi roda prosesnya bisa sampai tiga bulan. Basic-nya custom, begitu jadi langsung dibawa sama penggunanya,” kata dia.

Dituturkan Lydia, alat bantu jalan yang ia bikin menerapkan bioteknik desain dengan mengutamakan kenyamanan bagi penggunanya. Beberapa produk ciptaannya dapat juga dilihat publik di situs kursirodaanak.com. 

Dalam proses pembuatannya, Lydia biasa mengukur sesuai kebutuhan si pemakai. 

“Buat janji pertemuan, nanti anak akan diperiksa dan diukur. Setelah setengah jadi ada proses fitting, kalau-kalau ada perubahan langsung dilakukan. Bila sudah pas alat dibawa pulang,” jelasnya.

Lulusan perguruan tinggi negeri riset di Imperial College London tersebut mengaku sejumlah karya dan produk-produk yang dihasilkan banyak peminat dan saat ini sudah diminati berbagai daerah seperti Jakarta, Medan dan lain-lain.

Merintis sejak 2006

Lydia mengalami kondisi spinal muscular atrophy tipe 3 di mana dia tidak bisa jauh berjalan. Dalam usia empat tahun, Lydia didiagnosa mengalami kelainan genetik tersebut.

“Jalannya melamban dan mudah capek. Kalau harus berjalan jauh saya membutuhkan tongkat,” ucapnya.

Sebagai anak berkebutuhan khusus, Lydia diberi kesempatan berkembang berkat dukungan keluarga. Dia diberi kesempatan bermain dan berpartisipiasi di lingkungannya.

Dorongan keluarga terhadap pendidikan Lydia amat nyata. Dia berhasil menyelesaikan studi S-1 Teknik Fisika ITB, dan S2 teknik biomedika dan teknik desain industri di Royal College of Art dan University of Surrey.

Lydia kemudian merintis usaha di bidang bioteknik desain sejak 2006 silam. Setelah mengikuti salah satu program beasiswa, permintaan akan produknya meningkat sehingga dia menambah asisten untuk membantunya.

Saat ini, alat bantu postural mobilitas yang sudah dia buat antara lain kursi roda, kursi aktivitas, alat bantu berdiri dan alat bantu berjalan. Rancangan Lydia bukan sekadar alat bantu, tapi juga bisa digunakan sebagai bagian dari penampilan mereka.

Dikatakan Lydia, pengalaman hidup memotivasi dirinya untuk menghasilkan produk-produk bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan harapan anak-anak tersebut bisa berkembang di lingkungan masing-masing tanpa kesulitan.

“Tidak semua anak mendapatkan kesempatan ini. Karena itu saya bercita-cita menciptakan kursi roda yang membantu aktivitas mereka,” ucapnya.  

Tonton wawancara dengan mbak Lydia Kidarsa mengenai kiprahnya di dunia bioteknik dalam rangkaian Reuni Perak ITB93.

https://youtu.be/9M9lO99-FpI

Ada Dosen TF ITB Tergabung di IATF Runners

Dear Alumni TF ITB yang baik hatinya…

Tahun 2018 lalu peserta ITB Ultra Marathon 2018 dari dosen TF ITB di tim IATF Runners adalah pak Edi Leksono (TF78) dan pak Brian Yuliarto (TF94) yang kebetulan juga Kaprodi TF ITB.

Tahun 2019 ini alhamdulillah kedua dosen TF tsb masih setia bergabung dengan IATF Runners di ITB Ultra Marathon 2019 dan ditambah dengan wajah-wajah baru dari TF ITB seperti pak Augie Widyotriatmo (TF95), pak Suyatman (TF76), pak Deddy Kurniadi/Dekan FTI ITB (TF82), pak Wisnu Hendradjit (TF75) dan pak Hermawan KD (TF74).

Beri applause untuk kakak2 kita dosen TF ITB 👏👏👏 Beri dukungan mereka dengan donasi disini:

https://kitabisa.com/campaign/skullrunners

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!

#iatfitb #itbultramarathon2019

Persiapan Akhir SkullRunners di ITB Ultra Marathon 2019

img_2634

Hari Minggu pagi, 6 Oktober 2019 semua alumni TF ITB yang tergabung IATF Runners alias SkullRunners berkumpul beramai-ramai di Restoran Bebek Dower Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Acara ini disponsori oleh Bebek Dower dan dihadiri langsung oleh pemiliknya, Doni Tirtana (TF98).

Yesss! Dalam gelaran ITB Ultra Marathon 2019 tanggal 11-13 Oktober 2019, IATF bakal menerjunkan 54 pelari yang terbagi kedalam 3 tim (tim Relay 18). Tiga tim tersebut dinamakan tim SkullRunners KUAT, tim SkullRunners KENTAL dan tim SkullRunners KERAS. Ini sebenarnya adalah motto tim SkullRunners yang bermakna:

KERAS: keras perjuangannya
KENTAL: kental persahabatannya
KUAT: kuat olahraganya

Semua pelari SkullRunners akan berlari bersama-sama dengan kurang lebih 3500 pelari alumni ITB lainnya dari Jakarta ke Bandung melalui Puncak pass dengan menempuh jarak kurang lebih 200 kilometer.

Lari jauh-jauh, tengah malam/menjelang dini hari, panas terik ketika siang-siang yang dicari apa? Sebenarnya ITB Ultra Marathon adalah gerakan sosial gotong royong alumni ITB untuk melakukan penggalangan dana bagi Beasiswa di ITB. Apakah ITB kekurangan dana? Ternyata nih… banyak mahasiswa ITB yang kurang mampu secara ekonomi dan perlu mendapatkan bantuan dari kakak-kakaknya yang sudah lebih mampu untuk berbagi.

Oiya, kumpul-kumpul alumni TF kali ini tidak sekedar ketemu, berhaha-hihi dan makan-makan, tapi juga serius membicarakan strategi lari tim IATF Runners di ITB Ultra Marathon 2019 yang dikomandani oleh mas Ilo Harmadwijaya (TF96) dan didukung oleh tim support oleh mas M. Rafiq (TF01) serta dalam bimbingan/binaan mas Agung DM Sahidi (TF85). Banyak hal yang dibicarakan mulai persiapan pelari ke titik start, persiapan basecamp, pengawalan pelari, asupan hidrasi/makanan, dll. Lengkap deh! Dari A sampai Z…

Sebelum ngumpul-ngumpul ini bubar, tak lupa semua anggota tim SkullRunners memanjatkan doa bersama-sama dipimpin oleh Ketua IATF ITB, Nugroho Wibisono (TF98), agar semua alumni TF ITB yang mengikuti ITB Ultra Marathon 2019 dilindungi oleh Tuhan YME, diberi keselamatan serta kesehatan, selalu diberi semangat hingga mencapai garis finish di Kampus ITB Bandung.

Ada yang bertanya-tanya, seperti apa komposisi pelari-pelari alumni TF ITB tahun 2019 ini? Apakah semua angkatan terwakili? Apakah ada bapak/ibu dosen TF ITB yang ikut serta? Ini dia statistiknya. Bisa menebak siapa saja mereka?

Angkatan Tertua: 1974
Angkatan Termuda: 2015
Umur Rata2 Pelari: 38.23 tahun
Dosen TF ITB yang ikut serta: 6 orang (naik 300% dari tahun kemarin!)

Kontributor Pelari Angkatan TF Terbanyak
Nomor 1: TF angkatan 2001 (7 pelari)
Nomor 2A: TF angkatan 1994 (5 pelari)
Nomor 2B: TF angkatan 2005 (5 pelari)
Nomor 3A: TF angkatan 2002 (4 pelari)
Nomor 3B: TF angkatan 2009 (4 pelari)

Distribusi Pelari Angkatan TF Berdasarkan dekade
Dekade 1970-1979: 4 orang
Dekade 1980-1989: 3 orang
Dekade 1990-1999: 17 orang
Dekade 2000-2009: 24 orang
Dekade 2010-2019: 5 orang (note: paling muda angkatan 2015)

Mari kita dukung dan doakan supaya semua alumni TF ITB yang mengikuti ITB Ultra Marathon 2019 dapat berlari dengan selamat, sehat dan bersemangat.

Vivat FT! Vivat TF! Vivat ITB!